Orang Berduit Saja yang Bisa Menikmati Kulat Pelawan

Orang kampung yang dulu terbiasa makan kulat pelawan, saat ini kalau dia tidak mencari sendiri tidak bisa menikmatinya.

Orang Berduit Saja yang Bisa Menikmati Kulat Pelawan
bangkapos.com/Riyadi
Karmilah warga Dusun Tanjung Batu Desa Lumut Kecamatan Belinyu, siap mengemas kulat pelawan yang sudah kering, untuk diambil pemesannya. Foto Jumat (20/10). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Warga Sungailiat Tomi menuturkan, karena saat ini kulat pelawan tergolong susah dicari. Karena lahan hutan pelawan mulai terbatas, maka yang menikmati kulat pelawan hanya orang-orang yang berduit atau orang kaya saja.

Orang kampung yang dulu terbiasa makan kulat pelawan, saat ini kalau dia tidak mencari sendiri tidak bisa menikmatinya.

Tapi yang biasa mencari kulat pelawan, lebih memilih menjual ke siapa saja yang berani memberikan harga tertinggi.

"Ya golongan eksekutif lah, orang-orang yang berduit banyak lah yang berani beli, itu kalau sekarang, karena barangnya susah, orang kampung seperti saya dari pada beli sekilo kulat pelawan yang harganya Rp 1,3 juta atau beli se ons saja (sekitar Rp 130 ribu), mending duit Rp 130 ribu itu untuk beli beras, beli bawang merah, beli gule kupi (gula kopi)," tutur Tomi kepada bangkapos.com, Minggu (22/10).

Seorang ibu rumah tangga, Yanda menuturkan, orang yang mencari dan mau beli kulat pelawan selalu bilang, mau beli kulat pelawan untuk di bawa ke Jakarta, untuk oleh-oleh.

"Saya dulu juga sebagai pencari dan penjual kulat pelawan, tapi saat ini tidak, karena sulit menemukannya, sebab hutan pelawan sudah banyak habis, kayunya banyak ditebangi untuk kayu bakar," kata Yanda.

Sebelumnya Yanda mengatakan, harga kulat pelawan bisa mahal mencapai Rp 1,3 juta hingga Rp 1,5 juta perkilo, kenapa tidak.

"Sampai sekarang orang masih banyak memburu kulat pelawan ke warga-warga yang biasa mencari di hutan, tapi barang nggak ada, orang yang mau beli kulat pelawan, saya lihat bawa mobil bagus-bagus, mereka menawar sampai Rp 1,5 juta, yang penting ada barangnya, tapi barang gak ada, mau ngapain lagi," kisah Yanda.

Penulis: riyadi
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved