Harga Lada Makin Murah, Petani Basel Makin Menjerit

Kami mewakili petani lada basel merasa prihatin dengan, merosot tajamnya harga lada saat ini, terkesan pemimpin

Harga Lada Makin Murah, Petani Basel Makin Menjerit
ist
Petani asal Desa Ranggas sedang menjemur lada di bawah teriknya matahari, Senin (5/6/2017) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Riki Pratama

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Harga Lada yang makin merusut tajam membuat beberapa petani di wilayah Bangka Selatan berang.

Pasalnya harga yang tak sesuai saat ini, dituding telah di permainkan oleh cukong cukong pemasok lada, sehingga membuat harga lada kiat memburuk.

"Kami mewakili petani lada basel merasa prihatin dengan, merosot tajamnya harga lada saat ini, terkesan pemimpin Babel khusunya Gubernur, tidak mampu mengendalikan dan membela hajat petani lada saat ini, ini jelas bahwa pemrov Babel kalah telak dengan para cukong yang selama ini mengusai secara totalitas permainan komuditi lada kita,"ujar Matoridi petani lada asal Desa Keposang kepada wartawan, Kamis (26/10/2017)

Matoridi yang memiliki 10 ribu batang lada ini menjelaskan harga lada saat ini turun, dari harga sebelumnya Rp 85 ribu per Kg sekarang merosot menjadi Rp 63 ribu per Kg, yang terjadi sejak dua bulan terakhir ini.

"Harapannya sejatinya Gubernur tidak omdo (omong doang) tetapi berani melakukan tindakan tegas, kalau bisa interpensi kepada para cukong cukong para eksportir yang selama ini mendominasi tata niaga pejualan lada kita,"ujarnya

Menurutnya, bahwa kebutuhan masyarakat saat ini sebagian besar berharap kepada harga lada , namun kondisi banyaknya pupuk palsu dan murahnya harga lada membuat banyak petani semakin menjerit atas kondisi saat ini.

"Harga pupuk kita jauh dari harapan banyak pupuk palsu, harga pupuk bagus tetapi mahal tata niaga subsidi tidak menyentuh tepat sasaran, itu kondisinya, sehingga sejatinya pihak Pemerintah Pemrov dan daerah harus menunjukkan tikan baik dan berusaha melakukan pendekatan agar para cukong ikut serta memantu mengontrol harga lada,"ujarnya

Ia mengatakan, bahwa dirinya juga pernah bertanya kepada pembeli lada kenapa harganya murah, menurutnya karena negara lain sedang panen lada pada saat ini, sehingga mempengaruhi harga lada di Bangka Belitung.

"Kita pernah bertanya kepada cukong di Toboali, namanya Asang, tentang turunnya harga lada secara drastis seperti ini, jawaban karena barang banyak dari negara Vietnam, Kamboja, Thailand, sedang panen raya, sehingga harga murah, kalau menurut petani secara hukum ekonomi masuk akal, tetapi bedanya lada Bangka memiliki kualitas rasa dan aroma yang berbeda,"ujarnya

Terpisah Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bangka Selatan Yopi Jamhar mengatakan bahwa kondisi harga saat ini sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan kondisi pupuk palsu yang banyak digunakan, sehingga berdampak pada hasil lada milik petani saat ini.

"Sangat miris sangat kondisi khususnya di Basel dan umumnya terkhususnya terkait dengan petani lada , harga lada mulai merosot tajam, pata petani biaya operasional bibit, pembersihan lahan memerlukan biaya kos yang besar, yang sesuai, apabila harga seperti ini, maka pendapatan petani tidak sesuai, ditambah dengan kondisi pupuk saat ini, banyak pupuk palsu, menambah banyak petani dirugikan, sehingga seharusnya permasalahan ini, harus bisa di akomodir oleh pemerintah daerah,"ujarnya.(*)

Penulis: Riki Pratama
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved