Mengakali Belanda hingga Misteri Kisah Cinta, Inilah 5 Kisah Unik Dibalik Sumpah Pemuda

Usia mereka masih belia. Masuk 20-an. Bahkan ada yang masih di bawah 18 tahun. Latar belakang mereka berbeda-beda

Mengakali Belanda hingga Misteri Kisah Cinta, Inilah 5 Kisah Unik Dibalik Sumpah Pemuda
Net

Sabtu, 27 Oktober 1928. Jarum jam menunjukkan pukul 19.45 ketika Soegondo Djojopoespito yang didapuk menjadi ketua kongres membuka Kongres Pemuda II. Soegondo pemimpin rapat yang tangkas dan banyak akal.

Perlu diketahui, yang ikut rapat bukan cuma para pemuda, tapi juga diawasi langsung polisi Belanda.

Pada satu kesempatan, polisi Belanda protes karena peserta rapat menggunakan kata merdeka, hal yang dilarang ketika itu.

Soegondo kemudian berkata, Jangan gunakan kata kemerdekaan, sebab rapat malam ini bukan rapat politik dan harap tahu sama saja. Hal itu disambut tepuk tangan riuh dan tawa hadirin.

Memang ada-ada saja trik kaum pergerakan kala itu mengakali polisi Belanda.

S.K. Trimurti, salah satu tokoh pergerakan masa itu menulis sebuah cerita unik di buku Bunga Rampai Soempah Pemoeda (Balai Pusatka, 1978).

Tulisnya, ada trik khusus agar rapat organisasi pemuda yang dianggap radikal oleh Belanda tidak dibubarkan paksa polisi.

Suatu ketika, para pemuda hampir ditangkap polisi karena menggelar rapat, tapi akhirnya lolos. Kok bisa?

Jadi, ketika polisi hendak menggrebek, para peserta rapat berganti sikap.

Rapat yang serius berganti jadi acara tari-menari dansa-dansi. Musiknya, cukup pakai mulut saja menirukan suara gamelan.

3. Lagu Indonesia Raya tanpa syair

Sumpah Pemuda juga identik dengan lagu Indonesia Raya.

Untuk pertama kali, lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan RI itu diperdengarkan di Kongres Pemuda ke-2. Namun, tanpa syair.

Mengapa?
Tentu masih ada kaitannya dengan larangan polisi Belanda untuk menyebut kata merdeka dalam rapat.

Waktu itu, menjelang penutupan rapat pada Minggu, 28 Oktober 1928, seorang pemuda langsing bernama W.R. Soepratman menenteng biola mendekati pemimpin rapat Soegondo menyerahkan secarik kertas berisi syair lagu yang digubahnya.

Menangkap judul "Indonesia Raya" dan begitu banyak kata merdeka dan Indonesia di situ, Soegondo langsung melirik polisi Belanda yang tekun mengawasi kongres.

Soegondo khawatir rapat bisa dibubarkan paksa bila lagu itu diperdengarkan lengkap dengan syairnya.

Akhirnya Soegondo membolehkan Soepratman memainkan lagunya tapi tanpa syair. Musik itu berakhir dengan tepuk tangan panjang.

4. Misteri cinta W.R. Soepratman

Musisi dan cinta seharusnya berkait erat. Tapi tidak bagi W.R. Soepratman. Ia meninggalkan misteri seputar kehidupan cintanya.

Soepratman dikenal sebagai wartawan yang suka bermain musik dan kongko-kongko dengan para pemuda di markas Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia di Kramat Raya 106.

Ia mengenal musik sejak usia 11 tahun. Pada 1938, ia pernah dibui Belanda. Usai dibebaskan, Soepratman sakit-sakitan.

Dalam kondisi kian hari kian parah, ia ditemani Kasan Sengari, iparnya, dan Imam Supardi, Pemimpin Redaksi Penyebar Semangat.

Kepada Imam, Soepratman curhat bahwa hidupnya tidak bahagia karena percintaan.

Soepratman memang tidak menikah. Tapi Imam tidak menanyakan lebih lanjut, khawatir karibnya makin sedih.

Dalam catatan Kusbini, karib sesama komponis, Soepratman kerap datang ke warung Asih di Kapasari atau warung Djurasim di Bubutan, Surabaya, untuk menghibur diri membunuh sepi.

Namun di warung itu pun ia cuma melamun ditemani kue dan secangkir kopi.

W.R. Soeprratman menutup rahasia hidupnya dalam Taman Asmara, tulis Kusbini suatu kali. Taman Asmara adalah istilah Kusbini untuk patah hati sahabatnya.

Sayang hingga akhir hayatnya, Soepratman meninggal tengah malam 17 Agustus 1938, persoalan cinta itu tetap jadi teka-teki hingga sekarang.

5. Naskah Sumpah Pemuda ditulis satu orang

Rumusan Sumpah Pemuda itu ditulis Muhammad Yamin sendirian di sebuah kertas.

Saat itu, Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato di sesi terakhir kongres.

Sebagai sekretaris, Yamin yang duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan secarik kertas pada Soegondo sembari berbisik, "Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie" (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini).

Soegondo lalu membaca usulan resolusi itu, memandang Yamin. Yamin tersenyum. Spontan Soegondo membubuhkan paraf setuju.

Soegondo lalu meneruskan kertas ke Amir Sjarifudin. Dengan muka bertanya-tanya, Amir menatap Soegondo. Soegondo membalas dengan anggukan.

Amir pun memberi paraf setuju. Begitu seterusnya sampai seluruh utusan organisasi pemuda menyatakan setuju.

Sumpah itu berbunyi:
Pertama: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah itu awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang lebar oleh Yamin. Setelah disahkan, ikrar pemuda itu jadi tonggak bersatunya bangsa Indonesia. (Agus Surono)

Berita ini sudah tayang di Intisari dengan judul: 5 Kisah Unik di Balik Sumpah Pemuda, saat Sekat-sekat Kedaerahan Mulai Dikikis

Editor: tidakada016
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved