Dokter Hamil Jadi Sasaran Kemarahan Keluarga Pasien

Seorang dokter wanita RSUD Sampang, yang dalam kondisi hamil, dianiaya oleh keluarga pasien.

Dokter Hamil Jadi Sasaran Kemarahan Keluarga Pasien
Youtube
Dokter RSUD Sampang dianiaya keluarga pasien 

BANGKAPOS.COM -- Peristiwa menghebohkan terjadi di RSUD Sampang, Madura, Jawa Timur.

Saking hebohnya sampai-sampai peristiwa ini menjadi perhatian khusus Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Seorang dokter wanita, yang dalam kondisi hamil, dianiaya oleh keluarga pasien.

Dokter itu dijambak dan dibentak oleh seorang pria keluarga pasien.

//
 

Hal ini disampaikan Poernomo Boedi S, dokter Sp PD, Ketua Umum IDI Wilayah Jawa Timur pada Prencon di Kantor IDI Jatim, Jalan Moestopo 117, Surabaya, Jumat (3/11/2017).

Baca: Penyebar Video Mesum Siswi Samarinda Ditahan, Ternyata Ini Motifnya

Pihaknya menegaskan kekerasan seperti itu (menjambak dokter - berdasarkan kamera cctv) tidak perlu dilakukan.

"Sejatinya semua dokter ingin pasiennya sembuh. Jadi tindakan ini sangat disayangkan," tuturnya.

Menurut Poernomo, sebelum kekerasan terjadi, dokter yang sedang hamil 18 Minggu itu mengatakan pada keluarga bahwa bisa mencari dokter lain jika tidak puas.

"Sepertinya terjadi miskomunikasi, keluarga merasa penanganannya lama karena saat itu dokter bertanya-tanya terlebih dahulu kepada pasien. Mungkin kasihan kepada pesien yang sudah merasakan kesakitan kok ditanya-tanya. Mungkin mereka tidak paham bahwa itu sudah sesuai prosedur," jelas Poernomo.

Baca: Tim Dokter Temukan Bukti Baru Terkait Video Bokep, Hanna Anissa Bakal Diperiksa Ulang

Prosedur penanganan pasien juga dipertegas oleh dr Edi Suyanto SpF Ketua Badan Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A).

Menurutnya setiap dokter punya prosedur tindakan, ini pun bedasarkan kondisi pasien.

"Waktu itu pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri berat di area punggung. Prosedurnya dokter terlebih dahulu bertanya kepada pasien atau keluarga, terkait hal-hal yang berhubungan dengan keluhan yang dirasakan," katanya.

Selanjutnya dokter menganalisa, kemudian dilanjutkan assessment atau tindakan (penanganan).

"Baru setelah itu ada planning, atau perawatan tambahan. Jadi memang tidak bisa langsung, kecuali dia datang luka bacok berdarah-darah, dokter sudah pasti tahu apa yang harus dilakukan," jelasnya.

Baca: Suporter Indonesia Ramaikan Stadion Korsel Dukung Egy Maulana dkk

Dalam kontrak terapetik atau kedokteran, lanjut Edi masing-masing pasien dan dokter punya hak dan kewajiban.

Pasien juga harus bersabar dokter pundemikian, segala bentuk kekerasan tidak pernah dibenarkan.

"Dokter punya hak untuk memutus suatu kontrak ketika pasien tidak koperatif. Tapi itu sebenarnya tidak dianjurkan," tambahnya.

Setelah tindak kekerasan ini IDI Jatim memberikan ruang kepada dr. S, yang juga berasal dari Madura untuk senyamannya.

Mengingat tugasnya sebagai dokter internship yang tidak bisa memilih tempat tugasnya sendiri.

Berikut ini adalah videonya :

(Grid.ID/none)

Editor: fitriadi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved