Fakta tentang Setya Novanto Ditetapkan Tersangka, Ngaku Bukan Penjahat hingga Dilarikan ke Klinik

Orang dekat Setya Novanto mengatakan bahwa Ketua Umum Partai Golkar itu dilarikan ke klinik langganan di dekat kediamannya

Fakta tentang Setya Novanto Ditetapkan Tersangka, Ngaku Bukan Penjahat hingga Dilarikan ke Klinik
Tribunnews.com
Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi Indonesia melakukan aksi menanggapi batalnya status tersangka Setya Novanto di area Car Free Day, Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (1/10/2017). Aksi yang bertajuk 'Indonesia Berkabung' tersebut menggugat keputusan hakim tunggal praperadilan PN Jakarta Selatan Cepi Iskandar yang membatalkan status tersangka Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP serta mendukung KPK untuk mengeluarkan sprindik baru untuk Setya Novanto. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

BANGKAPOS.COM, KEBAYORAN BARU - Hilir mudik mobil-mobil mewah terlihat di kediaman Ketua DPR Setya Novanto di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2017) malam.

Di antara mobil mewah itu, keluar Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dan Bendahara Umum Partai Golkar Robert J Kardinal.

Keduanya enggan berbicara banyak saat masuk ke dalam rumah berlantai tiga yang berada di sudut jalan itu. Mobil yang membawa kedua petinggi partai itu terparkir di depan rumah.

//

Orang dekat Setya Novanto, kepada Tribun mengatakan bahwa Ketua Umum Partai Golkar itu dilarikan ke klinik langganan di dekat kediamannya. Sedangkan di dalam rumah hanya ada petinggi dan keluarga Novanto.

//

"Bapak di klinik. Di dalam rumah cuma ibu saja," jelasnya di depan kediaman Novanto, Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Katanya, penyakit lama Setya Novanto kembali kambuh. Saat ditanya detail soal penyakit itu, dia enggan mengatakan lebih lanjut. Ketiadaan Novanto di dalam rumah juga dikatakan oleh seorang pekerja di rumah tersebut.

Dia mengatakan, Novanto hanya terlihat saat Salat Jumat. Sedangkan pada malam harinya, Novanto tidak lagi terlihat.

"Salat Jumat sih tadi di sini memang, tapi habis itu keluar. Enggak tahu lagi, mobilnya juga enggak kelihatan," ucapnya berbisik.

Tribun kemudian mengecek klinik yang dimaksud. Seorang satpam mengatakan Novanto belum terlihat. Biasanya, kata dia, ada kendaraan pengawal yang berada di depan klinik.

"Belum kelihatan sih hari ini. Biasanya memang ke sini," cetusnya, tergesa-gesa. Terakhir kali, kata si satpam, Novanto dan istri terlihat menyambangi klinik tersebut pada Kamis (9/11/2017) sore, dengan satu mobil pengawal di depan gedung.

Menurutnya, Novanto dan beberapa pejabat lainnya, selalu melakukan pengecekan penyakit dalam kepada seorang dokter yang terkenal di dalam klinik.

"Kemarin sore baru ke sini. Kalau datang, juga tidak lama. Dia cuma cek penyakit dalam saja, habis itu pulang," jelasnya.

Novanto terakhir kali terlihat saat acara Kosgoro. Di sana, Novanto sempat menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo soal Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) terhadap pimpinan KPK atas laporan kuasa hukumnya. ‎

Menurut Novanto, Presiden Joko Widodo tidak meminta kasus SPDP terhadap Agus Rahardjo dan Saut Situmorang tersebut dihentikan, melainkan diusut sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

‎"Kalau enggak salah bukan begitu (dihentikan). Jadi beliau (Presiden) minta masalah huku‎m diserahkan kepada mekanisme hukum, gitu ya," ucap Novanto.

Setya Novanto: Saya Bukan Penjahat

Fredrich Yunadi mengaku telah berkomunikasi dengan kliennya, Setya Novanto, atas langkah KPK kembali menetapkan Ketua DPR RI itu sebagai tersangka kasus dugan korupsi KTP elektronik. Dalam pembicaraan itu, Novanto merasa dizalimi.

"Pak Setya Novanto bilang, 'Mengapa saya harus diperlakukan seperti ini? Saya bukan penjahat. Saya bukan melakukan sesuatu hal yang membahayakan negara. Tapi, kenapa saya dilakukan tidak adil seperti ini'," tutur Fredrich di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/11/2017) malam.

"Toh, praperadilan yang dulu-dulu yang KPK kalah, kenapa enggak berani disentuh? Saya tanya, kenapa enggak berani? Kenapa beraninya sama sipil? Ini sudah enggak benar. Kalau adil, semuanya dong. Kenapa banyak tersangka yang enggak diadili? Kenapa bertahun-tahun jadi tersangka seumur hidup? Apakah itu adil? Sekarang saya tanya," sambungnya.

Fredrich mengaku timnya dan Novanto telah memprediksi akan ada penetapan kembali sebagai tersangka. Ia menduga hal itu dilakukan oleh pihak KPK, karena dendam setelah pimpinan dan penyidik KPK dilaporkan ke Bareskrim Polri, terkait dugaan pelanggaran pengajuan cegah bepergian ke luar negeri terhadap Setya Novanto.

"Kami sudah tahu mereka akan melawan. Kami tahu banget mereka akan melawan. Jadi bagi saya silakan lawan , tapi saya yakin hukum ini panglima, itu aja," ucap Fredrich.

Ketua DPR Setya Novanto melalui tim penasihat hukumnya melaporkan dua pimpinan dan penyidik KPK ke Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat malam.

Usai membuat laporan, ketua tim penasihat hukum Novanton, Fredrich Yunadi, menunjukan surat tanda bukti lapor di Bareskrim nomor TBL/825/XI/2017/Bareskrim dengan nomor laporan : LP/1192/XI/2017/Bareskrim tertanggal 10 November 2017.

Editor: teddymalaka
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved