Sabtu, 25 April 2026

Rumah Sakit Siloam Bangka Seminar Neurosugery in Indonesia

Rumah Sakit Siloam Bangka selalu berupaya meningkatkan kualitas kesehatan mas­yarakat.

Editor: fitriadi
Tenaga medis dan narasumber RS Siloam berpose bersama 

BANGKA POS - Beroperasi Juli 2017 lalu, Rumah Sakit Siloam Bangka selalu berupaya meningkatkan kualitas kesehatan mas­yarakat.

Untuk itu rumah sakit ini melaksanakan seminar kesehatan, radio talkshow, dan artikel kesehatan.

Satu diantaranya, bekerjasama dengan Team Bedah Syaraf (TBS) Siloam Hopitals Group mengadakan seminar bertema Neurosugery in Indonesia, Sabtu (18/11) di BES Cinema.

Direktur Siloam Hospital Bangka, dr Eusebiusyuvens C Waruwu mengatakan motto Care and Compassion for The Nation menjadikan Rumah Sakit Siloam selalu aktif menggelar kegiatan seminar kesehatan guna mendukung terciptanya kesehatan masyarakat Bangka yang lebih baik.

Sebab lebih baik mencegah daripada mengobati sehingga mas­yarakat harus lebih waspada mendeteksi tanda-tanda penyakit sebelum terlambat.

Seminar tersebut ditujukan kepada dokter dan tenaga medis lainnya guna mening­katkan pengetahuan terutama tentang bedah syaraf.

TBS Siloam Hopitals Group dipimpin Prof Eka J Wahjoepramono, MD, Ph.D telah banyak mengadakan seminar di Indonesia maupun mancanegara.

Tim tersebut mempunyai 20 anggota, satu di antaranya dokter spesialis tetap di RS Siloam Bangka yaitu dr Wiradharma Arief, SpBS.

Ia menyebutkan dr Wiradharma Arief, SpBS bergabung di RS Siloam Bangka sejak awal beroperasi.

Selain didukung TBS, dilengkapi pula teknologi canggih CT Scan 128 membantu mendiagnosa pasien.

Tidak hanya itu, jika diperlukan penanganan operasi juga difasilitasi C-Arm atau alat penunjang dokter melakukan operasi lebih akurat.

TBS Siloam Hopitals Group terdiri 8 orang di Bangka dan ditemani Dr M Zafrullah Arifin, dr., SpBS(K) dari RS Hasan Sadikin Bandung.

Ia merupakan Konsultan Bedah Syaraf dan Kepala Bagian Bedah Syaraf Universitas Padjajaran.

Menurutnya risiko cacat atau meninggal akibat stroke harus dihindari sebab meng­obati lebih sulit dibandingkan mencegah.

Di Bangka paling banyak terjangkit hipertensi, meskipun sederhana karena bisa melalui minum obat rutin setiap hari diharapkan bisa terkontrol. Jika, dibiarkan dapat merembet ke otak dan jantung dan bisa terjadi kapan saja.

Ia menjelaskan hipertensi ada dua, yaitu dikarenakan bawaan diri sendiri dan faktor luar seperti makanan dan gaya hidup.

Ia berencana melengkapi perlengkapan beda syaraf secara bertahap.

Dua sampai tiga tahun kedepan perlengkapan MRI dan labterpenuhi. Sehingga lima tahun lagi bisa terlengkapi semua.

Ia menyebutkan operasi bedah syaraf bulan lalu sudah dilakukan dua kali karena kecelakaan dan perlu dioperasi buat buat mengeluarkan darah di kepala. Tindakan tersebut harus dilakukan cepat karena bisa menyebabkan cacat.

Ia berharap seminar tersebut tenaga medis di Bangka dapat lebih memperdalam pengetahuan medis mengenai bedah syaraf sehingga tidak hal sulit ditangani.

Prof Eka J Wahjoepramono, M.D, Ph.D mengatakan bedah syaraf diibaratkan ilmu reparasi otak, seperti operasi tumor dan stroke. Seperti di Amerika dari 1 juta penduduk terdapat 1.000 orang mengidap stroke.

Sementara, di Bangka angka penderita jauh lebih rendah dibandingkan daerah lain, dianalogikan layaknya angka di bawah gunung es.

Eka J Wahjoepramono menilai rendahnya frekuensi tersebut menimbulkan pertanyaan terkait diagnosa maupun budaya yang membiarkan stroke begitu saja karena nasib.

Ia merasa pola pikir tersebut harus diubah sebab telah tersedia rumah sakit atau klinik yang memiliki metode diagnosi tinggi. Seharusnya dapat lebih terkontrol dan dikurangi karena cacat atau meninggal di usia muda sangat memprihatinkan.

Ia menjelaskan 20 tahun lalu, masyarakat Indonesia belum mengenal istilah penyakit Aneurisma atau Stroke karena pembuluh darah di otak pecah. Butuh promosi dan usaha yang panjang supaya masyarakat bisa mempercayainya.

Ia yakin banyak warga Bangka yang menderita penyakit tersebut tidak terekspose.

“Siloam memiliki metode diagnosa yang sangat tinggi dan akurat tentu mampu menangani bedah otak. Prinsipkan seluruh kelainan otak harus dibereskan di negeri sendiri, khusus Aneurisma lebih 1.000 pasien dioperasi di Indonesia. Dulu pasien langsung keluar negeri dan hal itulah yang tidak boleh dibiarkan,” kata Eka J Wahjoepramono.

Menurutnya, melengkapi seluruh peralatan dan perlengkapan bedah syaraf perlu kerjasama pemerintah dan swasta. Baginya, kesehatan tidak murah tapi bagaimana caranya bisa terjangkau masyarakat.

Kehadiran Siloam yang terkenal di dunia tentang beda syaraf serta adanya dokter spesialis, yaitu Wiradharma Arief diharapkan bisa mengurangi risiko cacat atau meninggal di usia muda.

“Seminar ini bukan ajang pamer tapi menstrimulasi dokter agar termotivasi berkompetitif dengan tenaga medis di luar negeri. Perkembangan bedah syaraf di Bangka seharusnya lebih cepat karena sistemnya sudah ada,” ujar Eka J Wahjoepramono.

UGD 24 jam mempunyai fokus otak, jantung, dan kecelakaan dengan hadirnya dr Wiradharma Arief, SpBS siap menghadapi kasus gawat darurat otak dan kecelakaan. Bisa menghubungi call center 1500911 atau direct call 0717-9190911. (adv/p1/may)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved