Tingkatkan Harga Gaharu Budidaya di Level Petani
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menjadi pelopor pertemuan petani gaharu se-Indonesia di Hotel Santika Bangka, Senin (27/11).
BANGKA POS - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menjadi pelopor pertemuan petani gaharu se-Indonesia di Hotel Santika Bangka, Senin (27/11).
Pembukaan acara yang dilaksanakan selama tiga hari (27-29 November 2017) ditandai dengan pemukulan bedug oleh Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh sebagai penyelenggara Seminar Nasional dan Pertemuan Petani Gaharu bersama Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nazalyus dan Staf Ahli Bidang Pangan Kementerian Lingkungan Hidup, Sabrina.
Tercatat Seminar Nasional dan Pertemuan Petani Gaharu yang diikuti 400 orang dari 33 provinsi guna membentuk perhimpunan petani gaharu tanaman rakyat Indonesia.
Seminar Nasional dan Pertemuan Petani Gaharu terdiri dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepri, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogaykarta, Jakarta Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua dan Papau Barat.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nazalyus mengatakan pelaksanaan musyawarah nasional petani gaharu yang dilaksanakan selama tiga hari (27-29 November 2017) akan memperkuat posisi petani agar memiliki harga tawar gaharu lebih tinggi.
Dikatakannya, mekanisme pasar gaharu membuat petani selama ini tidak diuntungkan.
Regulasi ekspor gaharu dibagi menjadi dua macam, gaharu alam dan budidaya.
Nilai gaharu alam lebih mahal berkisar 25 juta per kilogram, sementara gaharu budidaya hanya 2-3 juta per kilogram.
“Gaharu alam ini ada persyaratan dan kuota terbatas karena sudah termasuk dalam spesies terancam. Kadang kualitasnya sama tapi harga gaharu alam dan budidaya jauh sekali,” ujar Nazalyus.
Indonesia menjadi pengekspor gaharu terbesar di pasar internasional, gaharu asal Bangka Belitung menjadi satu diantaranya yang diekspor.
Selama lima tahun, saat ini pemerintah daerah Bangka Belitung sudah berhasil menghasilkan gaharu budidaya yang prosesnya dilakukan dengan penyuntikan inokulan.
Pengembangan gaharu budidaya dilakukan di Kabupaten Bangka Tengah dan Belitung Timur.
Senada dikatakan Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman berharap agar acara yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup ini menjadikan Babel sebagai kawasan cluster gaharu nasional.
Pasalnya, penelitian dan jumlah petani gaharu yang diperbanyak telah dilakukan agar layak menjadi cluster gaharu nasional.
Ia pun kini menyoroti pemasaran (hilirisasi) gaharu yang sering dijadikan kosmetik seperti minyak wangi.
“Sejak jadi Bupati Bangka Tengah saya tahu betul potensi petani gaharu. Mereka panen, ketika mau jual susah sekali padahal tidak susah tapi cara menjualnya dibuat susah. Kalau selalu mengedepankan gaharu alam rusaklah hutan, ini salah satu cara pemerintah melindungi alam. Namun gaharu budidaya juga harus jelas berapa umur pohon yang ditebang, ada SOP sertifikat dan cara pengelolaannya,” terang Erzaldi.
Berdasarkan data yang dibeberkan Staf Ahli Bidang Pangan Kementerian Lingkungan Hidup RI, Sabrina, ekspor gaharu mencapai 700 ton per tahun.
Pangsa pasar gaharu memiliki segmen pasti seperti di Eropa dan Amerika sebagai pembuat bahan dasar parfum dan negara-negara Asia Timur seperti Cina dan Korea serta Asia Selatan seperti Arab Saudi, India dan Qatar.
Dikatakan Sabrina, Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan pengembangan budidaya pohon penghasil gaharu sebanyak 10 juta di lokasi yang dianggap berpotensi tinggi.
Pohon penghasil gaharu ditanam oleh masyarakat secara mandiri dan pemerintah daerah termasuk di Bangka Belitung.
“Kita menjual bahan mentah yang siap digunakan untuk konsumen luar negeri. Pola pemasaran seperti ini harus dihentikan agar produk olahan yang dilakukan di dalam negeri dapat menambah nilai ekonomi. Upaya pengembangan sporadis dan tertata akan memberikan stimulasi posisi tawar petani sehingga mampu berkompetisi dengan gaharu alam,” ujar Sabrina. (adv/o1/may)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/gaharu_20171128_085229.jpg)