Dulu Benci Banget, Sekarang Kok Berbalik Jadi Cinta, Kenapa Ya?

Orang yang kamu cintai juga bisa menjadi seseorang yang membuatmu jengkel dan kesal.

Dulu Benci Banget, Sekarang Kok Berbalik Jadi Cinta, Kenapa Ya?
instagram.com/bramastavrl
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Membicarakan masalah perasaan memang tak ada habisnya.

Pasalnya, perasaan seseorang memang bisa berubah-ubah.

Tak cuma yang dulu dibenci kini dicinta.

Orang yang kamu cintai juga bisa menjadi seseorang yang membuatmu jengkel dan kesal.

//
Setidaknya, demikianlah kesimpulan dari studi yang digagas oleh dua psikolog, Vivian Zayas dan Yuichi Shoda.

Baca: Mahasiswi UIN Unggah tentang Kehamilan Luar Nikah Sebelum Tewas Mengenaskan

Keduanya mempelajari reaksi emosional sejumlah responden terhadap orang yang mereka cintai, yakni suami atau istri.

Zayas dan Shoda menemukan, manusia memiliki perasaan implisit atau suatu emosional yang sering tidak kamu sadari ada dalam hatimu.

Penemuan itu didapatkan dari mempelajari sejumlah responden yang diminta untuk menuliskan nama pasangan dan melaporkan perasaan positif yang dirasakan mereka pada orang tersebut.

Baca: Tukang Tambal Ban Menyesal Sebar Foto Toples Kekasih

Menariknya, ketika responden diminta untuk menuliskan siapa orang yang juga sering membuat mereka merasa kesal dan jengkel, nama yang sama kembali hadir.

“Ketika otak manusia sudah diatur untuk memikirkan sesuatu yang positif, maka reaksi kita lebih cepat terhadap segala hal yang positif, tetapi menurun untuk hal-hal yang negatif. Lalu, ketika otak manusia diatur untuk memikirkan sesuatu yang negatif, reaksi serupa pun terjadi, lebih cepat bereaksi pada hal negatif dan lambat pada hal positif,” jelas Zayas.

Kondisi tersebut terjadi ketika responden bereaksi melihat nama pasangan, baik ketika berpikir positif dan negatif.

Baca: Skak Mat, Nagita Mau Dimadu Asalkan Raffi Ahmad Mau Diracun

Perasaan berlebihan pada seseorang, kata Shoda, justru membuat memori Anda lebih kuat memikirkan orang tersebut, baik secara positif atau negatif.

Hal ini terjadi tak hanya pada pasangan, tetapi juga pada mantan kekasih dan orangtua yang tidak memiliki hubungan harmonis pada anak-anak mereka.

“Sepertinya manusia menyimpan emosi baik terhadap seseorang yang sangat melekat di pikiran, meskipun Anda terkadang tidak menyukai mereka,” pungkasnya.

Hasil studi dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science. (Kompas.com/Agustina)

Artikel ini sebelumnya tayang di Kompas.com berjudul "Mengapa Anda Bisa Cinta pada Orang yang Anda Benci?"

Editor: fitriadi
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved