Rabu, 15 April 2026

Keterlaluan! Ibu Cecoki Anak-Anaknya dengan Racun Tikus Hingga Mati

Seorang ibu harus mendekap lebih dari 10 tahun di penjara usai membunuh 2 anak kandungnya.

Editor: fitriadi
Warta Kota
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Seorang ibu harus mendekap lebih dari 10 tahun di penjara usai membunuh 2 anak kandungnya.

Kedua anak malang tersebut nyawanya dihilangkan dengan cara sungguh keji.

Sebuah racun tikus dipakai oleh sang ibu.

//
Dikutip wartawan Grid.ID dari Daily Mail, Elena Kordyukova ternyata juga berusaha membunuh anaknya yang ke-3.
undefined
Foto bareng | The Siberian Times

Beruntung, dokter berhasil menyelamatkan anak laki-laki itu.

Luar biasa parah, anak ke-4 yang berjenis kelamin perempuan ternyata juga ikut tewas.

Ahli forensik belum dapat menentukan apa penyebab kematiannya.

Anak-anak wanita berusia 39 tahun itu; yang laki-laki Ilya, Maxim, Mikhail, serta anak perempuan Alexandra, semuanya menderita kelainan genetik langka.

Baca: Pasca Insiden Berdarah di Tempilang, Penambang TI Apung Pulang Kampung

Kelainan genetik ini disebut sebagai haemolytic-uremic syndrome.

Sindrom semacam ini menyebabkan pembentukan bekuan darah di pembuluh darah kecil di seluruh tubuh.

Akibatnya, pengidap bisa mengalami stroke, serangan jantung, gagal ginjal, bahkan tertimpa kematian.

Maxim, Mikhail, serta Alexandra meninggal di bawah usia 3 tahun.

Baca: Tersangka Tunggal Pembunuh Pemuda Tempilang Jadi Tersangka, Begini Nasib 2 Temannya

undefined
Elena bersama Mikhail | The Siberian Times

Wanita asal Ekaterinburg, Russia, mengaku kepada polisi bahwa dirinya ingin punya anak 'tanpa masalah kesehatan'.

Pihak berwajib kemudian menggali tempat dikuburkannya Maxim dan Mikhail dan menemukan banyaknya kandungan Warfarin.

Warfarin sendiri anti-kogulan yang memiliki efek membuat darah cenderung tidak menggumpal di tempat yang salah. 

Ramuan obat semacam ini dulunya umum diketahui sebagai racun tikus.

Baca: Warganet Murka! Istri Bikin Surat Begini Setelah Tahu Suaminya Direbut Siswi SMA

Memang obat ini sebenarnya bisa digunakan untuk mengobati gangguan yang diidap oleh anak-anak Elena.

Namun bisa berubah jadi mimpi buruk bila digunakan dalam dosis yang berlebihan.

Jasad Aelxandra sebenarnya juga sudah digali.

Akan tetapi, wujudnya sudah tidak berbentuk dan busuk, sampai-sampai ahli forensik menduga apakah anak ini juga ikut diracun.

undefined
Elena foto bareng Mikhail | The Siberian Times

Si anak tertua, Ilya yang berusia 8 tahun, ditemukan telah meminum 30 dosis obat yang diberikan oleh sang ibu ketika di rumah sakit.

Bocah malang ini dibuat sengsara, tapi beruntung masih bisa diselamatkan.

Sang ayah, Andrey Kordyukov, menyebut istrinya adalah 'ibu yang penuh kasih' dan telah berusaha menyelamatkan anak-anak.

Entah ingin menutup-nutupi atau memang benar tidak tahu, pengadilan di Ekaterinburg memastikan bahwa sang ibu telah melakukan tindikan keji itu.

Baca: Undian Liga Champions: Real Madrid Tantang PSG, Chelsea Bersua Barcelona

Elena mengakui telah melakukan pembunuhan dan percobaan pembunuhan.

Dia mengaku mencoba berusaha menyembuhkan.

Akan tetapi ternyata itu tidak mudah.

Jadi dia punya ide, lebih baik melahirkan anak baru yang sehat.

undefined
Elena ketika akan memasuki ruang sidang | The Siberian Times

Saat seorang psikiater diminta menganalisa di pengadilan, disebutkan bahwa wanita itu benar-benar normal dan menyadari kejahatannya.

Polisi memberi keterangan bahwa sang suami tidak sadar akan tragedi ini.

Justru, sang suami bilang Ilya membutuhkan ibunya di rumah.

Ini membuat mereka bakal mengajukan banding atas hukuman yang menimpa Elena.

undefined
Andrey yang masih tidak percaya sang istri telah melakukan aksi keji | The Siberian Times

Rencananya, sang ibu kejam ini akan dipenjara kurang lebih 20 tahun, sebuah hukuman maksimal bagi seorang wanita di Russia.

"Dia adalah ibu yang luar biasa," ungkap sang suami.

"Aku melihat betapa pedulinya dia kepada anak-anak."

Andrey mengklaim istrinya memberitahu bahwa dirinya justru telah dipaksa untuk mengaku. 

(Grid.ID/Ahmad Rifai)

 
Sumber: Grid.ID
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved