Bangka Selatan Jadikan 27 Pulau Kecil Geopark dan Marine Park

Kabupaten Bangka Selatan (Basel) sangat serius menggarap semua potensi pariwisata di wilayahnya.

Bangka Selatan Jadikan 27 Pulau Kecil Geopark dan Marine Park
IST
Rumah Belanda di tepi Pantai Lampu -- Tak jauh dari Desa Tanjung Labu ibukota Kecamatan Lepar Pongok. Dinding dan atap rumah ini sudah runtuh. Yang masih utuh juteru sumur bikinan Kolonial Belanda. Sumur ini terletak di samping rumah Belanda. 

Pada bagian lain sosialisasi geopark dan marine park, Haris jugaminta keterlibatan dan peran  desa  dalam menyukseskan program geopark dan marine park di Basel. Katanya,  dana desa mencapai Rp 1,5 miliar per desa, beberapa persen di antaranya dapat digunakan untuk memelihara, melindungi dan mencatat komponen-komponen pendukung geopark dan marine park yang ada di desa.

Jaga Budaya, Flora dan Fauna Endemik

Sementara itu Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc dalam sosialisasi geopark dan marine park meminta kepada warga untuk menjaga dan mengembangkan  seni musik, tari, kerajinan  dan  budaya (benda dan tak benda)  lainnya  yang hidup di tengah masyarakat, seperti permainan dambus dan ritual Muang Jung yang rutin digelar Suku Laut.

“Demikian pula flora (tumbuhan) dan fauna (hewan)endemik di Pulau Lepar dan Pongok, harus kita jaga dan lindungi.  Semua itu, baik budaya, formasi batuan,  maupun  flora dan fauna,  merupakan aset geopark dan marine park.   Dalam konteks geowisata,  semua itu bisa kita ramu menjadi paket wisata menarik dan unik,” terang Agus Hartoko.                                                                                               

Jeruk kunci, Agus memberi contoh dapat dijadika minuman berkhasiat karena karya vitamin C. Begitu pula tanaman Keraduduk, buahnya mengandung antioksidan yang  sangat kuat (70 kali lipat) bisa diolah menjadi obat antikangker, selai dan sirop.

“Tanaman bakau yang banyak ditemukan di sini,  bila diolah sedemikian rupa pun dapat menjadi pewarna alami untuk batik.  Batik menggunakan pewarna alami dari bakau ini harganya mencapai ratusan ribu rupiah. UBB pernah mempraktikannya  kepada warga di Tukak,” ujar Agus.

Menanggapi keluhan warga atas bau cangkang kepiting,  guru besar di bidang kelautan dan perikanan itu  menjelaskandari olahan cangkang kepiting dapat diperoleh chitosan --  bahan anti bakteri pembusuk alami.

“Harga chitosan lumayan tinggi.  Di Amerika, chitosan digunakan pada baju tentara,  karena ada anti bakteri alami tak bau-bau meski dipakai berminggu-minggu,” kata Agus Hartoko.

Menurut Agus banyak di antara  warga dan nelayan yang tidak mengetahui khasiat yang terdapat di dalam ikan Jebung.  Padahal ikan itu dicari untuk dikonsumsi oleh kalangan berduit.  Pasalnya  pada gelembung ikan Jebung  terdapat kolagen (zat pengencang kulit)  yang membuat pengonsumsinya awet muda.

“Ikan Jebung punya nilai jual tinggi.  Di sini ‘kan harga per kilogramnya Rp 20.000, bisa dijual pada harga Rp 100.000 per kilo.  Karena perut Jebung mengandung kolagen, zat pengencang kulit,” tukas Agus Hartoko.

Halaman
123
Penulis: Herru W
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved