Himprodi PJKR STKIP Bakti Sosial ke Pengkalenbatu, Dusun Terpencil di Bangka Selatan

Satu-satunya jalan untuk bisa sampai ke daeerah ini dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu sampan.

ist
Mahasiswa PJKR STKIP MBB foto bersama warga dusun Pengkalen Batu, Bangka Selatan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA—Mahasiswa Himprodi PJKR Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Bangka Belitung melakukan bakti sosial ke Dusun Pengkalen Batu Desa Ranggung Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan, Minggu-Senin (24-25/12).

Mereka disambut antusian oleh warga, hingga semua warga datang menyambut kedatangan tim kecil yang terdiri dari 6 mahasiswa Himprodi PJKR yakni Yogi Giwantara, Gris Arisandi, Puterayanda, Kamaludin, Nuryadi dan Riris, mereka disertai dosen pendamping Oktarina.

“Kita sangat gembira dengan adanya perhatian dari mahasiswa STKIP ini, dengan kegiatan ini masyarakat akan terbantu secara ekonomi dan semoga pemerintah cepat tahu dengan dusun Pengkalenbatu ini sehingga kami bisa terangkat,” papar Man Wakil Kadus setempat.

Sambutan hangat juga disampaikan Oga salah satu masyarakat di Pengkalenbatu. ”Senang sekali  kami bisa terbantu, mudah-mudahan kedepan akses jalan di desa ini segera dibuka ada sekolah dan langgar (tempat sholat) permanen,” harapnya.

Dusun Pengkalenbatu adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Ranggung Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan.  Kondisi desa yang terpencil dari desa lain membuat masyarakat di sini kurang memiliki akses, satu-satunya jalan untuk bisa sampai ke daeerah ini dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu sampan.

Beberapa waktu lalu sempat viral di media massa pasca pemberitaan mengenai belum adanya sekolah di desa ini, sehingga guru-guru dari Payung berinisiatif menjadi guru sukarela di kampung ini.

Sementara itu dosen pendamping Oktarina memaparkan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai bentuk pengabdian masyarakat dan sekaligus ingin berbagi kepada masyarakat.

“Kita juga ingin mencari sesuatu untuk meningkatkan objek wisata disini sehingga bisa dijadikan salah satu tempat wisata. Pemandangannya luar biasa dan masih asli dan belum disentuh oleh pemerintah,” ujarnya.

Ini pertama kalinya tim ke desa Pengkalenbatu, lanjutnya dengan melakukan bakti sosial berupa pemberian sumbangan sembako, baju pantas pakai, mainan anak-anak dan buku-buku cerita. Selain itu juga melakukan nonton bareng dan olahraga.

“Kami pakai genset untuk nonton bareng ini karena disana belum ada aliran listrik, walau sudah menggunakan listrik tenaga surya untuk kebutuhan malam hari. Sambutannya luar biasa atas kedatangan kami, makan bersama hingga sukuran disuguhkan mereka,” jelasnya.

Dosen olahraga ini memaparkan pengalamnnya naik perahu  membelah sungai untuk sampai ke tujuan.

“Wuiihh pemandangan luar biasa indah masih asli dan belum tercemar oleh limbah benar-benar asri..ini harus dijaga alam yang seperti in. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada masarakat yang telah menyambut dengan luar biasa mereka kumpul semua dan menyambut kami,” kenangnya.

Ketua Himprodi PJKR Yogi Giwantara mengaku terjun ke Pengkalenbatu adalah pengalaman yang luar biasa, masyarakat Pengkalenbatu menginspirasinya untuk membuat film pendek tentang perjuangan para pendidik dan siswa di desa ini.

“Kami terinspirasi semangat mereka, ini membuka mata kami bahwa menjadi mahasiswa tempatnya bukan hanya duduk diam di bangku kuliah saja tetapi mengabdikan diri ke masyarakat terutama di daerah tertinggal sangatlah penting, pengalaman yang sebenarnya ada di lingkungan masyarakat. ilmu di masyarakat  ini lah yang bisa menjadi bekal untuk kerja,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini mereka sempat merasakan ikut menginap di salah satu rumah warga. (*)

Editor: khamelia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved