Silvana Cicilia Mahasiswi Cantik Farmasi Jual Diri Lewat Medsos, Segini Tarif Bookingannya

Polisi menemukan informasi jasa layanan seksual tarif Rp1 juta untuk short time dan Rp3 juta untuk long time.

Silvana Cicilia Mahasiswi Cantik Farmasi Jual Diri Lewat Medsos, Segini Tarif Bookingannya
Kolase/Tribun Timur

BANGKAPOS.COM, MAKASSAR - Polda Sulsel merilis kasus penipuan online berkedok seks komersial Senin (15/1/2018).

Dua orang yang ditengarai sebagai pelaku prostitusi online masing-masing Silvana Cicilia dan Hamka Anwar alias Koko (29).

Silvana Cicilia mengaku sebagai mahasiswi Farmasi salah satu universitas di kota Makassar.

//

Silvana Cicilia ditangkap di Jl Buntu Manuruki, BTN Tabaria kota Makassar.

Sementara Koko ditangkap di Jl Amirullah Bundar, Kota Makassar, pada 12 Januari lalu.

Baca: Korban Ambruknya Balkon BEI Selamat Karena Berlindung di Bawah Meja Starbucks

Koko berperan menawarkan layanan seks komersial tersebut di akun media sosial (Medsos) seperti di Twitter dan Whats App (WA).

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani menyebutkan praktik dilakukan dengan membuka booking out lewat akun di media sosial.

Akun tersebut menampilkan foto perempuan berpakaian minim dengan wajah sedikit blur serta sejumlah keterangan yakni profil fisik lady escort.

Untuk memudahkan pelanggan disertakan kontak WhatsAap (WA) untuk melakukan percakapan baik melalui Twitter atau WA untuk informasi tarif.

"Kami amankan mereka setelah curiga dengan akun pemilik MakassarBOmks. Polisi yang melakukan transaksi kemudian mengamankan pelaku," kata Dicky

Polisi yang mengetahui hal inipun menyamar sebagai calon pelanggan.

Polisi menemukan informasi jasa layanan seksual tarif Rp1 juta untuk short time (waktu pendek) dan Rp3 juta untuk long time (waktu panjang).

Namun sebelumnya calon pelanggan harus terlebih dahulu membayar uang muka via transfer agar dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

"Pelaku oknum mahasiswi ini perannya itu terima telepon dari korbannya," kata Dicky saat merilis kasus itu di Mapolda Sulsel, Makassar, Senin (15/1/2018).

Petugas yang menyamar selanjutnya, lanjut Dicky, mentransfer Rp1 juta ke rekening pelaku sebagai uang muka, namun setelah itu, komunikasi putus dan tidak bisa dihubungi.

Karena sudah terlacak dengan alat khusus petugas akhirnya menemukan pelaku di dua daerah yakni Manuruki dan Mamajang lalu ditangkap pada Jumat lalu.

"Kedua pelaku dikenakan pasal 28 ayat 1 jo pasal 45A ayat 1 Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik atau ITE dan pasal 4 ayat 2 jo pasal 30 Undang-undang nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi," ucapnya kepada wartawan.

Sementara pelaku Koko mengakui perbuatannya dijalankan sejak 2016 dan berhasil mendapatkan uang Rp6 juta lebih, selanjutnya dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya tertangkap petugas.

"Biasanya kalau sudah transaksi, kontak langsung saya putus. Dua bulan kemudian diaktifkan lagi, dan ini terus berlanjut sampai akhirnya kami ditangkap," beber dia dengan muka ditutupi masker saat rilis tersebut.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti dari kedua pelaku berupa 3 handphone, 1 laptop, buku rekening dan uang ratusan juta rupiah, sisa transaksi para korbannya.

14 fakta

Terkait dengan pengungkapan kasus ini, berikut 14 fakta.

Fakta ini dirangkum dari konferensi pers di Mapolda Sulawesi Selatan, Senin (15/1/2018).

1. Kedua pelaku yang ditangkap adalah Silvana Cicilia dan Hamka Anwar alias Koko.

2. Silvana menurut polisi berusia 23 tahun dan Hamka berusia 29 tahun.

3. Keduanya berstatus teman dalam menjalankan kejahatan ini.

4. Mereka ditangkap, Jumat (12/1/2018), namun baru diperlihatkan kepada jurnalis pada Senin hari ini atau selang 3 hari.

5. Ditangkap di tempat berbeda.

Silvana ditangkap di kamar kostnya di Jl Buntu Manuruki, kompleks BTN Tabaria, Makassar; sedangkan Hamka ditangkap di Jl Amirullah Bundar, Makassar.

6. Silvana saat ditangkap berstatus sebagai oknum mahasiswi jurusan farmasi.

7. "Pelaku oknum mahasiswi ini perannya itu terima telepon dari korbannya," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan, Komisaris Besar Dicky Sonjaya menjelaskan pesan Silvana saat konferensi pers.

8. Jika Silvana berperan menelepon, maka Hamka berperan menawarkan layanan melalui media sosial Twitter dan aplikasi pesan instan WhatsApp.

9. Pada Twitter, mereka memiliki akun bernama @OpenBomks_. 

Namun, akun ini telah dihapus.

Sekadar diketahui, "open BO" merupakan istilah dalam bisnis pelacuran yang maksudnya adalah open booking out.

10. Dari penangkapan keduanya, polisi mengamankan barang bukti kejahatan berupa handphone, komputer jinjing, dan kartu ATM.

11. Mereka mulai menjalankan kejahatan ini sejak tahun 2016. 

Korban dijanjikan layanan open BO, namun harus membayar panjar.

Ketika korban telah membayar panjar melalui transfer bank, pelaku langsung memblokir nomor telepon korban sehingga mereka tak bisa dihubungi lagi.

12. Menurut polisi, pelaku menawarkan tarif hingga jutaan rupiah berdasarkan durasi.

Short time (singkat) Rp 1 juta dan long time (lama) Rp 3 juta.

13. Dalam mengungkap kasus ini, polisi menyamar, lalu melacak keberadaan mereka.

Sebelumnya, ada warga yang melapor ditipu.

14. Silvana dan Hamka dijerat pasal 28 ayat 1 jo pasal 45A ayat 1 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik atau ITE.

Juga pasal 4 ayat 2 jo pasal 30 Undang Undang nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

(Tribun Timur/Darul Amri Lobubun)

//
 
 
Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved