Sabtu, 11 April 2026

Babel Belum Bisa Mandiri, Aliran Uang Keluar Capai Rp2,6 Triliun

Data dari BI Bangka Belitung kebutuhan beras sebesar 86 persen dan 80 persen barang kebutuhan lain didatangkan dari luar daerah

Penulis: Ardhina Trisila Sakti | Editor: khamelia
Bangka Pos/ Ardhina Trisila Sakti
Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Cabang Bangka Belitung, Tantan Heroika 

Laporan wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Perputaran uang tunai di Bangka Belitung melalui Bank Indonesia Kantor perwakilan cabang Bangka Belitung cenderung dinamis.

Tercatat 2017 lalu cash outflow (uang yang keluar) senilai Rp. 2,6 triliun lebih besar dibandingkan cash inflow (uang yang masuk) senilai Rp,1,1 triliun.

Tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya 2016, cash out flow uang tunai senilai Rp. 2,6 triliun dan cash in flow mencapai Rp.1,54 triliun.

Dikatakan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Cabang Bangka Belitung, Tantan Heroika menjelaskan uang yang masuk dan keluar menjadi cerminan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

"Selisih jumlah uang masuk (Rp. 1,1 T) separuh dari uang keluar (Rp.2,1 T) melalui Bank Indonesia Kantor perwakilan Bangka Belitung. Ini mengindikasikan perdagangan di Babel masih bergantung dengan daerah lain. Uang tunai dibawa pedagang untuk dibelanjakan ke luar kemudian membawa masuk komoditi-komoditi untuk diperjualbelikan," terang Kepala BI kantor perwakilan Bangka Belitung kepada Bangka Pos beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data dari BI Bangka Belitung kebutuhan beras sebesar 86 persen dan 80 persen barang kebutuhan lain didatangkan dari luar daerah.

Secara jumlah keseluruhan barang dan jasa yang ingin dibeli konsumen (demand), Bangka Belitung belum bisa mandiri memenuhi kebutuhannya. Pasalnya Babel hanya memiliki cadangan beras sebesar 14 persen dari lahan-lahan sawah untuk memenuhi kebutuhan daerah sendiri.

Meski jumlah uang keluar (Cash outflow) lebih besar ketimbang uang masuk namun Tantan menolak apabila Babel dikatakan konsumtif dan kurang produktif. Sebabnya uang tunai hanya menjadi salah satu indikator dari perputaran uang di Babel melalui Bank Indonesia perwakilan Bangka Belitung.

Ia menjelaskan adapula transaksi yang dilakukan secara non tunai seperti transfer dan kliring. Jumlah transaksi non tunai di Bangka Belitung mengalami kenaikan dari Rp.16 triliun pada 2016 menjadi Rp20 triliun pada 2017.

"Transaksi tunai memang agak menurun sebesar 15 persen dibanding tahun lalu namun karena berbagai faktor diantaranya elektronifikasi. Orang-orang memilih transaksi tunai menjadi non tunai walaupun belum terlalu signifikan," jelas salah satu staff Bank Indonesia perwakilan Bangka Belitung saat menemani Tantan Heroika.

Adapun industri maju semisal perhotelan mengurangi transaksi tunai (cashless) berbeda dengan bidang perkebunan seperti sawit yang masih menggunakan pembayaran tunai.

"Kecenderungan uang keluar (cash outflow) naik di Babel bukan berarti gak bagus. Kalau bicara perputaran uang bukan hanya tunai tapi juga non tunai," tambah Tantan.

Guna mendorong uang masuk ke Bangka Belitung, Tantan pun menyarankan agar pemerintah mendorong investasi dan menciptakan nilai tambah berbasis pengolahan perikanan, perkebunan, timah dan pariwisata. Kebutuhan yang bisa diatasi mandiri oleh daerah akan berdampak positif pada uang masuk di Bangka Belitung.

"Kalau kebutuhan diatasi secara mandiri bahkan bisa mengekspor maka uang gak keluar dari daerah yang ada malah uang masuk. Pemerintah daerah harus melihat banyak potensi ini," tutup Tantan Heroika.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved