Breaking News:

Inilah Kisah Agen Wanita Korut yang Ledakkan Pesawat Korsel

Seorang agen perempuan Korea Utara yang meledakkan pesawat milik maskapai Korean Air

Editor: Teddy Malaka
(CNN)
Kim Hyon Hui digiring para agen Korea Selatan saat tiba di Seoul pada 15 Desember 1987 setelah diekstradisi dari Bahrain. 

BANGKAPOS.COM, SEOUL - Seorang agen perempuan Korea Utara yang meledakkan pesawat milik maskapai Korean Air memberikan pengakuan terinci soal aksi mautnya itu.

Kim Hyon Hui adalah salah satu dari dua agen Korea Utara yang meledakkan penerbangan 858 dari Baghdad menuju Seoul yang menewaskan 151 orang penumpang dan awaknya.

Pesawat Boeing 707 itu jatuh di Laut Andaman lepas pantai Myanmar pada 29 November 1987, sekitar enam bulan sebelum Olimpiade Seoul digelar.

Kepada CNN yang mewawancarainya di sebuah tempat yang dirahasiakan, Kim Hyon Hui mengatakan, aksinya tersebut  adalah perintah langsung dari pemimpin Korea Utara saat itu Kim Jong Il.

"Tujuannya adalah menggagalkan Olimpiade Seoul 1988," kata perempuan berusia 55 tahun itu.

Peristiwa mengenaskan itu sudah terjadi hampir tiga dekade lalu, tetapi Kim memperingatkan bahwa negeri itu belum berubah sejak dia menjadi agen mata-mata Korea Utara.

Sejak saat itu, Korea Utara belum menyatakan permintaan maaf atau pertanggungjawaban atas tragedi tersebut.

Sebelum menjalankan tugasnya, pemerintah Korea Utara melatih Kim selama tujuh tahun untuk menjadi seorang agen rahasia.

Kim dipilih langsung dari universitas saat baru berusia 18 tahun, berkat kemampuannya berbahasa asing.

Kemudian Kim menghabiskan waktu satu tahun menjalani latihan di sebuah fasilitas rahasia di pegunungan.

Di sana dia dilatih ilmu bela diri, menembak, komunikasi radio, dan bertahan hidup di alam liar.

Lalu Kim belajar bahasa Jepang dari Yaeko Taguchi, perempuan Jepang yang menurut dia diculik pemerintah Korea Utara.

Untuk mengasah kemampuannya berbahasa Jepang, Kim tinggal selama dua tahun bersama Yaeko Taguchi.

Selanjutnya, pemerintah Korea Utara mengirim Kim ke kota Guangzhou, China untuk memperlancar bahasa Mandarinnya.(*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved