Ketika Imlek Dilarang Pak Harto, Inilah Sejarah Warga Tionghoa Pakai Nama Indonesia

Begitu orde baru berkuasa, aturan-aturan diberlakukan untuk menghapus budaya Tionghoa dari komunitas orang-orang peranakan.

Ketika Imlek Dilarang Pak Harto, Inilah Sejarah Warga Tionghoa Pakai Nama Indonesia
Bangkapos/Suharli
Menyalakan lilin 

Saya tak terlalu memikirkannya, sampai ketika tiba-tiba Ibu Guru mengumumkan nama-nama baru para siswanya di kelas.

Ternyata betapa pun bagus hasil hitungan sinshe, di telinga saya nama itu aneh banget! Malunya .... Saat itu barulah saya menyadari bahwa soal nama ini soal seumur hidup.

Oh! Beruntung ketika menikah, saya dapat meminjam nama suami yang kemudian saya pakai sebagai nama pena saya.

Bagi generasi kami, bertambahlah tugas untuk mengingat nama baru teman-teman, meskipun sampai hari ini kami masih saling memanggil dengan nama asli kami.

Nama baru tersebut kemudian diurus oleh Ayah begitu ia memperoleh Surat Kewarganegaraan Indonesia. Namanya Surat Pernyataan Ganti Nama. Untuk mengurusnya, Ayah menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Mungkin sampai setahun. Kedua surat itu kemudian menjadi surat paling penting bagi keluarga kami yang harus dijaga layaknya menjaga nyawa. Karena itu surat-surat tersebut oleh Ayah dibungkus plastik, sebelum akhirnya ada teknologi laminating.

Ke mana pun kami pergi dan setiap kali kami harus berurusan dengan formalitas dan legalitas.

Kedua surat tersebut mesti ditunjukkan dan fotokopinya mesti diserahkan, beserta surat akta lahir (yang tentu masih menerakan nama asli kami) baik saat mendaftar sekolah, mengurus KTP, SIM, Paspor, atau mengurus surat-surat kontrak kerja sama, kepemilikan, dll.

Bullying dan diskriminasi

Dunia anak-anak adalah dunia yang jujur sekaligus kejam. Bullying terhadap anak-anak keturunan Tionghoa mulai biasa terjadi.

Halaman
123
Editor: teddymalaka
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved