Ketika Imlek Dilarang Pak Harto, Inilah Sejarah Warga Tionghoa Pakai Nama Indonesia

Begitu orde baru berkuasa, aturan-aturan diberlakukan untuk menghapus budaya Tionghoa dari komunitas orang-orang peranakan.

Ketika Imlek Dilarang Pak Harto, Inilah Sejarah Warga Tionghoa Pakai Nama Indonesia
Bangkapos/Suharli
Menyalakan lilin 

Kakak laki-laki saya, suatu hari dikeroyok oleh segerombolan anak-anak keturunan asing bukan Tionghoa, karena ia Tionghoa.

Padahal, keluarga kami sudah biasa bergaul dengan berbagai kalangan, tak terbatas etnik Tionghoa.

Pada zaman di mana bahasa Belanda masih menjadi bahasa pergaulan yang paling umum, tamu-tamu Ayah ada yang orang Jawa, Ambon, Arab, dll. Mereka datang bertamu dan tak jarang makan bersama kami.

Sedangkan mereka sendiri saling menyapa dengan menyebut “Meneer dan Mevrouw”. Ayah biasa disapa sebagai Meneer Oey, dan ibu, Mevrouw Oey.

Ketika saatnya kami masuk ke universitas, kami harus berjuang ekstra keras kalau ingin diterima di universitas negeri.

Bagi siswa keturunan Tionghoa, tersedia tempat hanya sekitar 10% dari semua kursi yang ada.

Dengan demikian mereka harus melewati filter rangkap, angka kelulusan tes dan jatah 10% tersebut. Kondisi yang keras ini di sisi lain menjadi blessing in disguise, karena anak-anak Ayah terbiasa bekerja keras untuk survive.

Meskipun saya tidak berhasil, kedua kakak saya berhasil diterima di salah satu universitas negeri unggulan.

Seperti apa perayaan Imlek di masa Bung Karno?

(Oleh Lily WIbisono/intisari) 

Editor: teddymalaka
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved