Sabtu, 11 April 2026

Ketika Laut Tak Bersahabat, Rejeki Nuri Justru Mengalir Deras

Ketika laut sedang tak bersahabat, nelayan memilih istirahat dan memperbaiki perahu. Di saat seperti ini pula rejeki Nuri (47), mengalir deras

Editor: Evan Saputra
Bangka Pos/Fery Laskari
Nuri (47), profesi pembuat- rehab perahu di Pantai Batu Dinding Belinyu Bangka, Senin (5/3/2018).(ferylaskari) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketika laut sedang tak bersahabat, nelayan memilih istirahat dan memperbaiki perahu. Di saat seperti ini pula rejeki Nuri (47), mengalir deras. Ayah dua anak, Warga Pulau Punai Belinyu Bangka itu ketiban orderan, karena profesinya memang sebagai tukang rehab atau pembuat perahu.

Petang itu, Senin (5/3/2018) ditemui disela-sela kesibukannya merehab perahu di Pantai Batu Dinding Belinyu, Nuri berbagi kisah.

"Profesi pekerjaan saya bikin perahu baru atau rehab, tergantung pesanan," kata Nuri memulai cerita seputar profesi yang digelutinya.

Saat berbincang-bincang dengan Bangka Pos Groups, Nuri menunjukan contoh perahu yang sedang dia kerjakan. Perahu sepanjang tujuh meter dan lebar sekitar120 cm, direhab pada bagian atas, sisi kanan-kiri. Papan atau kayu yang sudah lapuk di perahu ini, dia ganti menggunakan kayu baru. "Ini kita menggunakan kayu medang," katanya.

Biaya rehab perahu ukuran tujuh meter yang dimaksud membutuhkan waktu sekitar satu pekan dan menghabiskan biaya sekitar Rp 3 Juta.

"Perahu yang rusak direhab, ukuran tujuh meter, lebar 120 cm, biayanya menghabiskan dana sekitar tiga juta rupiah," katanya.

Ongkos rehab terbilang murah dibanding biaya pembuatan perahu dari awal dalam ukuran panjang dan lebar yang sama.

"Karena kalau bikin perahu ukuran panjang tujuh meter, lebar 1,20 cm, dari awal, butuh dana sekitar Rp 14 juta dan waktunya sekitar 15 hari. Kalau bikin perahu dari awal, biasanya saya dibantu oleh teman seprofesi," katanya.

Profesi sebagai pembuat atau tukang rehab perahu sudah dia jalani sejak empat tahun terakhir. Pekerjaan itu dia lakoni demi menghidupi seorang istri dan dua orang anak.

"Selama empat tahun terakhir, sudah sekitar 50 perahu saya bikin," kata Nuri seraya mengaku berasal dari Jebus Bangka Barat.

Saat ditanya soal kendala pembuatan perahu, Nuri menyebut keterbatasan bahan baku menjadi penghambat pekerjaan. Kayu kualitas bagus sulit didapat. Selain itu pasokan kayu terbatas sehingga pembuatannya butuh waktu lama.

"Kesulitannya bahan baku susah didapatkan. Kalau kayu dari hutan lindung dak berani orang ambil. Kita beli atau narik kayu lebih dari sepuluh kubik sudah takut," katanya.

Sedangkan soal penghasilan sebagai pembuat atau tukang rehab perahu, Nuri mengaku cukup untuk bertahan hidup sehari-hari.

"Kalau dibilang cukup ya cukup, tapi kalau dibilang tidak..ya tidak juga. Apalagi orderan kadang sepi kadang ramai. Biasanya banyak nelayan minta rehab perahu hanya saat cuaca di laut sedang tak bersahabat saja. Dan saat itu pula saya penuh orderan," katanya.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved