Begini Kata Analis Konservasi dan Rehabilitasi Wilayah Pesisir Soal Bau Tak Sedap di Pesisir Pantai

Soal Bau Tak Sedap di Pesisir Tanjungpendam, Begini Kata Analis Konservasi dan Rehabilitasi Wilayah Pesisir

Begini Kata Analis Konservasi dan Rehabilitasi Wilayah Pesisir Soal Bau Tak Sedap di Pesisir Pantai
ist
Analis Konservasi dan Rehabilitasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Dinas Perikanan Belitung Timur, Zulfiandi 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BELITUNG- Fenomena bau tak sedap yang disebut warga Belitung sebagai Sarak di sejumlah pesisir pantai di Kabupaten Belitung menyita perhatian dari Analis Konservasi dan Rehabilitasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Dinas Perikanan Belitung Timur, Zulfiandi.

Dia menyebut, secara ilmiah, Sarak disebut juga Blooming Alga (Algae Blooming) yang merupakan suatu kondisi dimana terjadi ledakan populasi plankton di perairan kondisi ini membuat warna perairan menjadi berubah. Warnanya bisa hijau, merah dan coklat tergantung jenis fitoplankton.

"Blooming alga ini terjadi karena proses eutrofikasi atau penyuburan pada perairan. Adapun sumber utama penyuburan pada perairan adalah limbah domestik atau rumah tangga, limbah pertanian dan limbah industri yang berasal dari daratan yang bawa oleh aliran sungai atau yang langsung dibuang ke laut yang mengakibatkan tingginya konsentrasi nutrient pada perairan seperti nitrat, fosfat dan silikat. Tingginya fosfat dan nitrat pada perairan dapat pula disebabkan oleh air hujan yang mengalir dari daratan, air sungai dan aliran saluran pembuangan," beber Zulfiandi melalui keterangan tertulis, Rabu (7/3/2018).

Blooming Alga, kata Zulfiandi, dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, ledakan Fitoplankton yang tidak memproduksi zat toxin, namun karena kelimpahannya sangat tinggi sehingga ketika fitoplankton dengan kelimpahan sangat tinggi tersebut mengalami kematian maka akan terjadi proses pembusukan yang membutuhkan bakteri aerob untuk mengurainya. Ini akan menyebabkan kandungan oksigen perairan menjadi berkurang drastis.

"Berkurangnya kandungan oksigen pada perairan akan menghambat pertumbuhan, perkembangbiakan bahkan menyebabkan kematian organisme perairan lainnya. Selain itu juga sel-sel fitoplankton tersebut juga dapat menyumbat insang pada ikan dan menyebabkan kematian," ujar lulusan Magister Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro itu.

Kelompok kedua, dia melanjutkan, adalah ledakan Fitoplankton yang dapat memproduksi zat racun tertentu sehingga akan menyebabkan kematian pada organisme perairan walupun kelimpahannya sangat rendah.

Sebagai contoh beberapa racun yang diproduksi alga hijau biru yaitu cyanotoxin berupa neurotoxins, hepatotoxins, cytotoxins dan endotoxins.

"Racun-racun itu dapat menyebabkan kematian mendadak pada ikan dan organisme perairan akibat kegagalan pernapasan (respiratory failure)," kata dia. (*)

Penulis: Dedy Qurniawan
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved