Kisah Haru Camelia Berikan Pendidikan Bagi Anaknya Autis di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Camelia (41) tak dapat membendung rasa harunya saat namanya disebutkan sebagai Mama Hebat dalam peringatan Hari Autis Internasional

Kisah Haru Camelia Berikan Pendidikan Bagi Anaknya Autis di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Camelia saat menerima penghargaan Mama Hebat, di Pusat Layanan Autis Babel, Senin (2/4/2018) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Camelia (41) tak dapat membendung rasa harunya saat namanya disebutkan sebagai Mama Hebat dalam peringatan Hari Autis Internasional, di Pusat Layanan Autis Bangka Belitung, Senin (2/4/2018).

Bukan tanpa alasan wanita asal Keposang, Bangka Selatan ini mendapatkan penghargaan ini. Diberikan kesempatan memilik anak berkebutuhan khusus sebagai single parent tentunya tidak mudah.

27 Oktober 2005 silam dirinya melahirkan putra keduanya yang berkebutuhan khusus. Ditengah keterbatasan ekonomi, sebagai tulang punggung keluarga dirinya berjuang mengupayakan sang Anak masih bisa mendapatkan penanganan khusus agar mandiri.

Dengan berbagai keterbatasannya, ibu dua anak ini tetap menyekolahkan anak di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan dua minggu sekali untuk mendatangi PLA agar anaknya dapat penanganan.

"Bagaimanpun caranya anak saya harus mandiri. Kalau nanti saya meninggal dan sudah tua, anak saya yang autis ini tidak membebankan orang, abangnya," kata Camelia ditemui Bangka Pos usai menerima penghargaan, Senin (2/4/2018).

Wanita yang bekerja serabutan itu sempat patah semangat, namun dengan motivasi orang-orang terdekat dirinya berusaha memberikan yang terbaik bagi kedua putranya.

"Suami saya sudah sejak Andri berumur 8 tahun pergi, sekarang saya sudah tidak tau dia dimana. Yang penting saya fokus mengurus dua anak saya, kerja apa saja jual sayur, nyuci, ngasuh saya kerjakan asal halal," ceritanya.

Untuk menghemat biaya pendidikan anak, ia memilih untuk menginap di PLA. Karena anaknya harus menjalani pelatihan.

"Anak saya kekurangan di sensorik dan wicara, saya diberikan kemudahan di PLA kalau orang satu minggu dua kali, saya dua kali seminggu nanti harinya dideketin misalnya rabu dan kamis, saya nginep disini. Kadang saya dikasih makan sama teman-teman disini, kadang saya bawa beras atau nasi jadi bisa hemat," katanya.

Ia mengatakan untuk transportasi dari Keposang ke PLA sekitar Rp 130 ribu. Itu belum termasuk untuk makan.

"Andri sekolah SLB juga sekarang kelas 1 SMP, tapi kalau lagi di PLA dia enggak sekolah. Kalau saya kerja Andri enggak ke SLB, dibantu neneknya yang mengawasi di rumah, mengajari dia juga. Sekarang Alhamdulillah dia mandiri Kebutuhan sendiri dia sudah bisa, sekarang masak juga dia bisa bantu saya," katanya.

Ia berharap nantinya, putra keduanya bisa mandiri dan diterima masyarakat. Bisa berpenghasilan dan tidak membebankan orang.

"Saya belajar banyak dari orangtua dia PLA, ada mereka yang bukan anak kandungnya autis, mereka menyayangi dan mau memberikan pendidikan. Masak saya yang Ibu Kandung menyerah," katanya.

Penulis: krisyanidayati
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved