Leisure Bangka Belitung

Panorama Menggoda Pantai Penyusuk Pulau Putri Belinyu

Desiran angin dan jernihnya air laut menyiratkan sebuah kedamaian. Begitulah suasana Pantai Penyusuk Belinyu

Panorama Menggoda Pantai Penyusuk Pulau Putri Belinyu
Bangka Pos / Ferylaskari
Pantai Penyusuk Pulau Putri Belinyu 

Lois Merry Tangel, Miss Tourim Cosmopolitan INT'L 2017/2018 asal Manado kepada Bangka Pos Group di destinasi wisata yang sama, Rabu (4/4) juga mengumbar pujian serupa.

Hanya saja kata Louis, ketika dia tiba di Pulau Putri dan juga Pantai Penyusuk, dia tak menemukan fasilitas umum yang memadai. "Kekurangannya yang saya lihat tadi (terutama di Pulau Putri), fasilitas umumnya, toilet, pondok-pondok yang kurang memadai," kata gadis postur tinggi semampai rambut panjang ini.

Sementara itu, Pantai Penyusuk sebenarnya sudah dikenal sejak dulu, khususnya oleh wisatawan lokal.

Keberadaan pantai ini kembali populer tiga tahun silam, sejak banyak wisatawan berkunjung ke Pulau Putri, sebarang Pantai Penyusuk. Sejak itu pula, nama Pantai Penyusuk dan Pulau Putri, kembali jadi perbincangan.

Destinasi wisata tersebut merupakan wilayah administratif pemerintahan Kelurahan Remodong Indah Belinyu, termasuk diantaranya Pantai Remodong hingga Pantai Batu Atap.

Jarak Pantai Penyusuk ke Pusat Kecamatan Belinyu, sekitar 20 KM, atau sektar 30 menit perjalanan darat menggunakan mobil atau sepeda motor. Kawasan ini dihuni oleh sekitar 60 kepala keluarga, sebagian besar mata pencarian nelayan.

Lurah Remodong Indah, Achmad Ichwanda kepada Bangka Pos Group, Sabtu (7/4) mengakui, aset wisata tersebut belum tersentuh pembangunan modern menuju perbaikan fasilitas bagi wistawan.

"Padahal, banyak wisatawan datang, berenang dan menyelam melihat keindahan terumbu karang di perairan ini," kata Sulung, sapaan akrab pak lurah.

Pantai Penyusuk atau Pulau Putri akan menjadi lebih baik jika dibangun fasilitas seperti hotel atau cottage serta fasilitas pendukung lainnya, sebagai tempat singgah wisatawan.

Tentunya, untuk menuju ke arah itu butuh investor handal. Hanya saja, kendalanya, investor tak berani menjamah destinasi wisata ini karena statusnya merupakan hutan lindung pantai (HLP).

"Makanya pemerintah sulit mengembangkan destinasi wisata ini. Sedangkan investor takut karena statusnya hutan lindung. Oleh karenanya kami sekarang mengajukan usulan kepada menteri kehutanan agar kawasan ini dijadikan hutan kemasyarakat (HKM) agar mudah untuk diolah," kata sulung, memastikan ususlan sedang dalam proses.(*)

Penulis: ferylaskari
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved