Breaking News:

Tika Ngadu ke Hotman Paris Usai Mobilnya Disita Leasing, Bagaimana Aturan Main Fidusia Sebenarnya

Tika (25), seorang mahasiswa yang sempat diintimidasi debt collector lantaran dirinya terlambat membayar cicilan mobilnya

Penulis: Teddy Malaka | Editor: Teddy Malaka
Warta Kota
Pengacara Hotman Paris Hutapea bersama Azka Izzatika, mahasiswi yang dibantunya mengambil mobil yang disita leasing 

BANGKAPOS.COM, KELAPA GADING - Tika (25), seorang mahasiswa yang sempat diintimidasi debt collector lantaran dirinya terlambat membayar cicilan mobilnya mendapatkan bantuan hukum dari pengacara Hotman Paris Hutapea.

Tika menuturkan awal cerita mobilnya diambil paksa.

//

Dirinya berharap bisa mendapatkan kembali mobilnya yang ditahan leasing akibat keterlambatannya tersebut.

"Kemarin ceritanya saya terlambat dua bulan. Jadi bulan pertama saya terlambat 44 hari, jadi bulan kedua harusnya saya bayar tanggal 13 Maret 2018," ujar Tika saat ditemui TribunJakarta.com di Kopi Johny, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (18/4/2018).

//

Wanita yang bertempat tinggal di Jakarta Barat tersebut mengatakan sempat mendatangi leasing tempat dirinya menyicil mobil Toyota Sienta.

Tika mengatakan, ketika ia mendatangi leasing mobilnya pada 20 Maret 2018 lalu, dirinya berterus terang bahwa ia baru sanggup membayar satu bulan cicilannya seraya berjanji sisanya akan ia lunasi beberapa hari ke depan.

Namun, yang ia sesalkan adalah perlakuan pihak leasing yang semena-mena mendatangkan debt collector yang sempat mengintimidasi dirinya.

"Kemudian saya disuruh nunggu tiga jam tahu-tahu sudah didatangin debt collector terus mereka minta kunci saya tapi saya nggak kasih," lanjut Tika.

Tika juga mengaku sempat dipermalukan debt collector saat mereka mengunjungi rumah neneknya.

Diketahui Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mobil Tika tersebut atas nama neneknya yang bertempat tinggal di Bekasi.

"Kita sudah mempersilahkan ayo monggo masuk tapi dia malah teriak-teriak depan rumah sampai semua tetangga pada keluar. Padahal kita mempersilahkan masuk untuk bicara baik-baik tapi mereka tidak menunjukkan etikat baiknya," kata Tika.

Lalu, kelanjutannya adalah mobil Tika disita pihak leasing hingga dirinya tidak bisa menggunakan alat transportasi pribadinya tersebut selama kurang lebih tiga minggu.

Lantaran intimidasi yang Tika alami, dirinya mendatangi Hotman Paris di gerai Kopi Johny pada Sabtu (14/4/2018) lalu.

"Langsung dikonfirmasi sama Pak Hotman, jadi sudah terkonfirmasi mereka langsung memilih mengembalikan mobil saya. Karena ibaratnya mungkin mereka merasa salah juga menggunakan debt collector sedangkan kita bisa kok bicara baik-baik gitu," kata dia.

Setelahnya, berkat bantuan Hotman Paris yang dilanjutkan kepada Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya AKBP Aris Supriono, mobil yang disita oleh pihak leasing berhasil dikembalikan kepada Tika pada Senin (16/4/2018) lalu.

Sementara itu Hotman Paris mengatakan bahwa kejadian intimidasi dari pihak leasing seperti yang dialami Tika juga harus terus mendapat perhatian dari pihak kepolisian.

"Jadi di situ memang benar-benar perlu perhatian dari Kapolda, Kapolri, untuk melindungi orang-orang lemah seperti ini," kata Hotman Paris.

Hotman Paris saat menikmati pisang goreng pemberian Tika, Rabu (18/4/2018) di Kopi Johny, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Hotman Paris saat menikmati pisang goreng pemberian Tika, Rabu (18/4/2018) di Kopi Johny, Kelapa Gading, Jakarta Utara. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO)

Di tengah kebingungan mencari perlindungan untuk menghadapi debt collector yang semena-mena, Azka Izzatika mendapatkan kiriman sebuah sebuah video viral Hotman Paris dari temannya.

"Waktu itu malam hari saya pulang ujian, ada teman saya kirim video viral bang Hotman dan besok paginya (14/4/2018) saya datang ke bang Hotman," katanya.

Setelah membawa kasusnya ke Kedai Kopi Johny dan mendapatkan bantuan hukum dari Hotman Paris, mobil Azka Izzatika yang sudah tiga minggu disita oleh pihak leasing akhirnya dikembalikan lagi ke tangan sang pemilik.

Untuk menyampaikan terimakasihnya, kemudian Azka Izzatika kembali menemui Hotman Paris di Kedai Kopi Johny pada Rabu pagi (18/4/2018).

"Mobil saya sempat diambil selama tiga minggu. Mobilnya kembali lagi hari Senin (16/4/2018). Saya bawain bang Hotman pisang goreng karena saya bingung mau bawain apa," ujarnya.

Usai berhasil dikembalikan mobilnya oleh Hotman, Tika membawakan pisang goreng.

Bagi Hotman pisang goreng yang dibawakan oleh Azka Izzatika memiliki makna tersendiri.

Menurut pengacara Rp 30 miliar tersebut, ini adalah hadiah termahal ke-dua yang pernah diterimanya selama berkarir sebagai pengacara.

"Setelah Tika datang nangis ke kopi Johny saya telpon leasing dan terjadi perdebatan. Akhirnya Senin saya video viralkan. Kapolda Metro Jaya SMS saya. Resmob Polda Metro kemudian menelepon leasingnya. Kalau nggak dibalikin akan diproses hukum. Hari ini saya dapat honor pengacara berupa pisang goreng. Honornya mahal banget, pisang goreng," kata Hotman Paris.

"Inilah momen penting dalam hidupku. Dulu saya pernah mendapat honor pengacara termahal dalam kasus pembunuhan Angeline di Bali dimana si Agus begitu divonis bukan pelaku pembunuhan dia bersimpuh di depan kaki saya. Sekarang honor kedua yang saya terima adalah pisang goreng dari Tika. Semanis orangnya nih. Ini semua juga berkat perhatian dari Kapolri, Kapolda dan Resmob Polda Metro jaya," katanya.

Eksekusi Terhadap Benda Objek Perjanjian Fidusia dengan Akta di Bawah Tangan

Perjanjian fidusia adalah perjanjian hutang piutang kreditor kepada debitor yang melibatkan penjaminan. Jaminan tersebut kedudukannya masih dalam penguasaan pemilik jaminan.

Lalu, bagaimana dengan perjanjian fidusia yang tidak di buatkan akta notaris dan didaftarkan  di kantor pendaftaran fidusia alias dibuat di bawah tangan?

Pengertian akta di bawah tangan adalah sebuah akta yang dibuat antara pihak-pihak dimana pembuatanya tidak di hadapan pejabat pembuat akta yang sah yang ditetapkan oleh undang-undang (notaris, PPAT dll). 

Dilansir hukum online, dalam konsepsi hukum pidana, eksekusi objek fidusia di bawah tangan masuk dalam tindak pidana Pasal 368 KUHPidana jika kreditor melakukan pemaksaan dan ancaman perampasan.

Situasi ini dapat terjadi jika kreditor dalam eksekusi melakukan pemaksaan dan mengambil barang secara sepihak, padahal diketahui dalam barang tersebut sebagian atau seluruhnya milik orang lain.

Walaupun juga diketahui bahwa sebagian dari barang tersebut adalah milik kreditor yang mau mengeksekusi tetapi tidak didaftarkan dalam di kantor fidusia.

Bahkan pengenaan pasal-pasal lain dapat terjadi mengingat bahwa dimana-mana eksekusi merupakan bukan hal yang mudah, untuk itu butuh jaminan hukum dan dukungan aparat hukum secara legal. Inilah urgensi perlindungan hukum yang seimbang antara kreditor dan debitor.

Lebih lanjutnya baca artikel ini, "Eksekusi Terhadap Benda Objek Perjanjian Fidusia dengan Akta di Bawah Tangan"

(Tribun Jakarta/bangkapos.com/Hukum Online)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved