Film Avengers: Infinity War, Cerminan Pemujaan Manusia Terhadap Batu Bertuah

Batu Keabadian atau Infinity Stone di film Avengers terbaru terinspirasi oleh kisah-kisah nyata, begitu pula Batu Bertuah dalam kisah

Film Avengers: Infinity War, Cerminan Pemujaan Manusia Terhadap Batu Bertuah
Dok.INSTAGRAM
Infinity Stone (Dok.INSTAGRAM) 

Tentu saja, ini adalah tradisi lain yang juga muncul di Marvel Cinematic Universe - bangsa Wakanda asal Black Panther memiliki industri dari kekayaan alamnya berupa 'vibranium', sebuah logam yang jarang ditemukan dan punya kekuatan besar yang diambil dari meteor raksasa.

Meski Infinity Stones mengingatkan kita akan mitos-mitos tua, namun vibranium Wakanda yang banyak menjadi incaran adalah bagian dari sejarah kita.

Praktik Ribuan Tahun

Penambangan meteor bukan hanya konvensi di buku komik, namun praktik yang sudah berjalan ribuan tahun.

Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa penduduk Inuit awal di Greenland mencoba menambang meteor yang jatuh ke area Cape York.

Sementara itu, meteor Descubridora yang ditemukan di Meksiko memiliki bekas pahat tembaga yang tertanam di cekungannya. Ini mengindikasikan bahwa area itu juga dicungkil oleh penambang meteor.

Para peneliti bahkan mengklaim bahwa salah satu belati yang ditemukan di makam Raja Tut dipahat dari besi yang diambil dari meteor, karena konsentrasi nikelnya yang sangat tinggi. Ini adalah tanda-tanda besi yang diambil dari sumber luar angkasa.

Yang lebih mengagumkan lagi, sama seperti vibranium di Wakanda, peradaban awal ini memiliki alasan untuk meyakini bahwa mineral yang diambil dari meteor berasal dari kualitas yang superior daripada yang ada di Bumi.

Dalam kasus Mesir, banyak dari artefak yang terbuat dari besi-meteor berasal dari masa sebelum peleburan besi menjadi populer, dan artinya tembaga adalah alternatif yang umum.

Dan sama halnya seperti vibranium Wakanda, besi yang diambil dari meteor dianggap berharga karena jarang ditemui, dan lebih tahan lama.

Apakah kepercayaan ini omong kosong?

Seperti kata Virginia Woolf, "Batu yang kita tendang dengan sepatu kita akan bertahan lebih lama daripada Shakespeare."

Perburuan akan batu-batu ajaib akan menjadi plot penting dalam salah satu waralaba film terbesar di masyarakat, dan ini menunjukkan bahwa tak hanya batu yang bertahan abadi, tapi juga kesukaan kita terhadapnya.

Tentu saja, banyak yang akan mengatakan bahwa ada perbedaan antara legenda batu bertuah dengan yang ada di Marvel Universe.

Meski kekuatan batu-batu suci dianggap sebagai fakta namun Batu Keabadian dan vibranium adalah fiksi.

Namun, kini kita melihat balik ke kepercayaan kuno akan batu permata dan batu dengan rasa ingin tahu, dan yang unik adalah — walaupun banyak dari agama kuno ini yang sudah mati — tetapi keyakinan akan keajaiban dalam batu-batu ini masih bertahan sampai sekarang.

Para pengunjung masih datang ke Blarney Stone dengan harapan bisa mendapat anugerah kemudahan berbicara.

London Stone yang legendaris disimpan dalam museum karena legendanya menyatakan jika batu itu dipindahkan, maka kota akan hancur.

Meski kita kini tak lagi percaya akan praktik pengobatan kuno seperti mengeluarkan darah, namun pasar online yang menjual 'batu yang bisa menyembuhkan' seperti amethyst dan aquamarine tak lebih dari praktik pengobatan kuno di era modern.

Di sisi lain, kita bisa melihat bahwa pemujaan kita akan batu tak sepenuhnya tak berdasar.

Meski kita tak memiliki batu bertuah yang bisa mengubah sesuatu, mineral seperti flint, yang berperan dalam membuat api, dan kuarsa dengan elemen piezoelektrik telah memberi manusia kemampuan untuk menguasai elemen.

Walaupun jauh dari keyakinan bahwa batu tertentu bisa menangkal racun ketika dipakai di sekitar leher, tetapi suplemen mineral telah terbukti berguna dalam mengatasi penyakit dalam dunia medis modern.

Tentu saja tidak semistis keyakinan manusia zaman dahulu, tapi penerapan khasiat batu yang lebih praktis memberi pengaruh yang kuat pada masyarakat kita.

Dengan berbagai keyakinan akan kekuatan batu, batu abadi Marvel tak lagi terlihat seperti hasil bayangan atau fantasi, tapi lebih merupakan keyakinan kuno kita yang selama ini tak terhapuskan.

Di jantung film ini ada satu kekaguman atau obsesi tertua kita, sebuah lapisan dalam kekayaan legenda masa lalu.

Dengan sejarah panjang yang merentang sampai ke Zaman Batu dan Batu Abadi, tampaknya obsesi kolektif akan batu permata ajaib masih tetap akan bertahan sampai lama.

Editor: Evan
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved