Perang Retorika, Erdogan dan Netanyahu Saling Serang di Twitter

"Netanyahu adalah PM negara apartheid yang menduduki tanah orang tidak berdaya selama lebih 60 tahun dan melanggar resolusi PBB. Tangannya..."

Perang Retorika, Erdogan dan Netanyahu Saling Serang di Twitter
sinarharian.com.my
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu 

BANGKAPOS.COM, ANKARA -- Perang retorika terjadi antara Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu di situs blog mikro, Twitter.

Hal itu terjadi terkait insiden kekerasan dilakukan rezim Zionis atas penduduk Palestina yang merenggut sedikitnya 61 nyawa termasuk seorang bayi perempuan.

Baca: Jadi Sorotan, Foto Masa Muda Irwan Mussry Ini Sukses Buat Netter Meleleh, Diisukan akan Nikahi Maia

"Netanyahu adalah PM negara apartheid yang menduduki tanah orang tidak berdaya selama lebih 60 tahun dan melanggar resolusi PBB. Tangannya penuh dengan darah penduduk Palestina dan tidak dapat menutup kejahatannya dengan menyerang Turki," tegas Erdogan, sebagaiman dikutip dari laman sinarharian.

Tweet itu dikirim sebagai tanggapan atas pernyataan Netanyahu yang mengkritik pembantaian terhadap para pengunjuk rasa Palestina di perbatasan Gaza.

Baca: Ingat! Jangan Sampai Keliru, Begini Doa Buka Puasa yang Benar dan Shahih

Netanyahu menyebut, "Erdogan adalah pendukung Hamas terbesar dan tidak ada keraguan bahwa dia juga memahami kekerasan dan pembunuhan. Saya menyarankan dia untuk tidak mencoba 'mengajar' kami tentang itu," katanya sinis.

Erdogan yang merupakan pendukung kuat Palestina, menyebut Israel "negara ganas' dan disebut telah melakukan "pembantaian" pada Senin lalu.

Baca: Pengamat dari Australia Ini Beberkan Siapa Target Utama Teroris di Indonesia, Ternyata

Sebagai tanda solidaritas dengan Palestina, Ankara mengumumkan tiga hari berkabung dan memanggil pulang duta mereka dari Tel Aviv dan Washington, sebagai menindaklanjuti insiden kekerasan tersebut yang terjadi pada hari yang sama Amerika Serikat telah memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem.

Tahun lalu, Turki mengadakan pertemuan negara Islam untuk mengkritik keputusan Presiden Donald Trump untuk mengakui Baitulmaqdis sebagai ibu kota Israel.

Baca: Ms. Marvel, Tokoh Superhero Muslim Bakal Difilmkan

Ankara, bagaimanapun tetap mempertahankan perdagangan dan hubungan diplomatik dengan Tel Aviv setelah kesepakatan damai tahun 2016 yang mengakhiri perselisihan antara kedua negara setelah insiden di kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara oleh pasukan komando Israel pada tahun 2010.

(*)

Baca: Akting Kocak Syahrini di Bodyguard Ugal-ugalan Buat Netter Penasaran Pengen Nonton, Ini Videonya

Baca: Bangkit dari Podium, Risma Tiba-tiba Sujud di Hadapan Tohir, Lalu Minta Maaf, Penyebabnya Hal Ini

Baca: Ada Lebih Senior, Jurnalis Asing Ini Sebut Dalang Bom di Surabaya Bukan Dita, Tapi Berinisial AU?

Penulis: asmadi
Editor: asmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved