200 Bagan di Perairan Bangka Kendala Kayu Langka, Biaya Pun Membengkak

Berganti menjadi musim angin tenggara, nelayan mulai mendirikan bangunan kayu perangkap ikan atau biasa disebut bagan di tengah laut.

200 Bagan di Perairan Bangka Kendala Kayu Langka, Biaya Pun Membengkak
Dok/Bapos
Masyarakat nelayan di Desa Batubelubang Kecamatan Pangkalanbaru membuat bagan apung berukuran 14 x 14 meter. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Musim angin utara di Perairan Bangka telah berakhir. Ketika musim berganti menjadi musim angin tenggara, nelayan mulai mendirikan bangunan kayu perangkap ikan atau biasa disebut bagan di tengah laut.

Jumlahnya saat ini diperkirakan sekitar 200 unit, mulai Perairan Rebo Sungailiat hingga Pesaren Belinyu Bangka.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka, Ridwan kepada Bangka Pos Groups, Rabu (20/6/2018) mengatakan, data jumlah unit bagan Tahun 2018 telah dicatat oleh Pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Bangka atau pihak terkait.

"Namun secara umum Tahun 2018, jumlahnya sekitar 200 unit lebih bagan, mulai Perairan Rebo hingga Pesaren," katanya.

Bagan kata Ridwan merupakan bangunan kayu yang didirikan menggunakan jenis kayu tertentu yang diajukan ke dasar lautan.

Bangunan perangkap ikan tersebut hanya mampu bertahan sekitar satu tahun. Ketika musim gelombang tinggi atau badai, bangunan ini seketika roboh.

"Seperti yang terjadi ketika musim angin utara sejak Bulan Desember 2017 hingga Maret 2018 lalu, sekitar 100 unit lebih bagan nelayan Kabuoaten Bangka yang roboh sebelum waktunya. Dan itu membuat nelayan merugi ratusan juta karena faktor alam," katanya.

Walau penuh resiko, namun nelayan kembali mendirikan bagan di tengah laut karena bagan merupakan tempat yang paling mudah untuk menangkap ikan, udang, cumi atau kepiting.

Aksi mendirikan bagan dilakukan sejak bulan lalu, April-Mei 2018 hingga sekarang.

"Hanya saja, kendalanya, kayu bagan mulai langka. Harga mendirikan bagan relatif mahal, minimal dibutuhkan biaya Rp 70 juta perunit," katanya.

Oleh karenanya, ke depan, Ridwan berharap, Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka maupun Pemprop Babel dapat mencari solusi guna meringankan beban nelayan bagan.

"Misal, pemerintah daerah kasih bantuan hibah atau pinjaman lunak guna meringankan nelayan bikin bagan. Atau misal ada program Pripinsi Babel mengucurkan program atau pola bantuan silang. Yang jelas pemerintah harus cari solusi," harapnya.(*)

Penulis: ferylaskari
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved