Selasa, 19 Mei 2026

King Cobra yang Gigit Rizki Ahmad Baru Dua Bulan Dipelihara, Ditemukan Saat Banjir

King Cobra yang Gigit Rizki Ahmad Baru Dua Bulan Dipelihara, Ditemukan Saat Banjir

Tayang:
Editor: Teddy Malaka

BANGKAPOS.COM, PALANGKARAYA - Rizki Ahmad, remaja yang meninggal karena digigit ular King Cobra peliharaannya dikenal sosok yang pemberani. Ia memlihara sejumlah ular, satu di antaranya King Cobra yang ditangkap saat banjir dua bulan lalu.

Sosok Rizki Ahmad, pria berumur 19 tahun yang selama ini sering membawa ular piaraanya di lokasi keramaian seperti di Kawasan Bundaran Besar dan Taman Pasok Kameloh bawah Jembatan Kahayan Palangkaraya, memang dikenal berani dengan binatang melata tersebut.

Dia memang memelihara beberapa ular seperti Ular Piton dan jenis ular lainnya, termasuk King Cobra yang ditangkapnya ketika banjir melanda bantaran Sungai Kahayan, akibat meluapnya sungai tersebut, Rabu (2/5/2018) lalu.

Anggota Tagana Palangkaraya, Sugeng Wahono, Minggu (8/7/2018) mengatakan, dia bersama korban Rizki Ahmad berusaha melepas ular King Cobra yang saat itu terperangkap di jala bawah rumah warga yang dilanda banjir.

"Saat menangkap ular King Cobra yang terperangkap banjir saat itu, dia memang tidak terlihat rasa takut, bahkan kami diminta membentangkan King Cobra tersebut, di tengah banjir selutut anak-anak saat itu," ujarnya.

Saat itu, rencanannya ular tangkapan Rizki memang ingin diserahkan ke BKSDA, tetapi belakangan korban ingin memeliharanya sendiri.

"Saat itu, dia memang bilang ingin memelihara sendiri ular tersebut, karena sudah lama mencari King Cobra, kebetulan dapat saat itu,"ujarnya.

Putra dari Suwardi Duyen dan Arbainah ini, datang kemudian menangkap ular tersebut tanpa rasa takut, sehingga akhirnya ular King Cobra tersebut dipeliharanya dan dilatihnya hingga akhirnya jinak.

Rizki Ahmad,(pakai kaos dalam putih) sesaat setelah memangkap ular di King Cobra yang tersangkut di jala rumah warga yang dilanda banjir di Jalan Danau Rangas Palangkaraya. Rizki dipatok ular piaraanya, dan masih di rawat di ruang ICU RS Doris Sylvanus Palangkaraya, hingga, Minggu (8/7/2018) kondisinya masih memburuk.
Rizki Ahmad,(pakai kaos dalam putih) sesaat setelah memangkap ular di King Cobra yang tersangkut di jala rumah warga yang dilanda banjir di Jalan Danau Rangas Palangkaraya. Rizki dipatok ular piaraanya, dan masih di rawat di ruang ICU RS Doris Sylvanus Palangkaraya, hingga, Minggu (8/7/2018) kondisinya masih memburuk. (banjarmasinpost.co.id/ faturahman)

Namun apes yang terjadi, Minggu (8/7/2018) pagi saat dia membawa ular King Cobra di Bundaran Besar Palangkaraya, saking keasyikan ngomong lupa ular tersebut lepas dan mematuk lengan kanannya.

Kepada Tribun Kalteng.com, Suwardi Duyen, Bapak korban, mengatakan, ikhlas atas wafatnya Rizki.

"Meskipun berat , tapi ini adalah kehendak Allah taala, kami ikhlaskan,"ujarnya saat ditemui di kamar jenzah RS Doris Sylvanus Palangkaraya.

Rizki meninggal dunia Senin (9/7/2018) pukul 08.30 WIB, dia sempat dirawat di RS, namun racun ular King Cobra yang menggit lengannya sudah menyebar hingga memecahkan pembuluh darahnya, hingga kondisi terakhir sebagian tubuh korban membiru, dampak racun King Cobra.

Kepada orang tuanya, Rizki berpesan agar ular King Cobra yang telah membunuhnya tersebut jangan dibunuh, dan dibiarkan dikembalikan ketempat awal ditemukan.

"Pesannya begitu, jikapun tidak, ular itu diserahkan saja ke lembaga yang berwenang,"ujarnya.

Menurut Bapaknya, Rizki sudah berani memelihara ular sejak umur enam tahun sehingga di rumahnya ada sekitar enam ular jenis Piton besar dan kecil hingga terakhir Ular King Cobra sepanjang tiga meter yang dipeliharanya, hingga akhirnya merunggut nyawanya.

-------------------------

Setelah digigit Rizki Ahmad dirawat di ICU RS Doris Sylvanus Palangkaraya, Kalimantan Tengah semakin memburuk.

Racun King Cobra, ular yang dipeliharanya menyebar ke pembuluh darah korban, hingga kondisi fisiknya semakin memburuk.

Ular tersebut ditangkap korban, saat di kawasan Banjir jalan Danau Rangas, Kelurahan Bukittinggal Kecamatan Jekanraya , Palangkaraya tanggal Rabu, 2 Mei 2018 lalu.

Kondisi fisik korban semakin memburuk, apalagi keterangan dokter di RS Doris Sylvanus Palangkaraya , Dokter Ricka Zaluchu, pihak rumah sakit tidak memiliki penawar bisa ular sangat berbahaya tersebut, sehingga korban tetap dirawat di ICU.

"SABU (Serum Anti Bisa Ular) harusnya segera mungkin diberikan untuk mengurangi penyebaran racun nya.. namun kadang sukar sekali kita mendapatkannya , sayangnya pas kebetulan kosong di RS," ujarnya.

Dari literatur yang dihimpun,racun ular king Cobra sangat mematikan karena menyerang sistem saraf dan sistem peredaran darah manusia.

Ular king Cobra dikenal dengan bisa atau racunnya yang sangat mematikan.

Bahkan menurut penelitian dari Universitas Michigan, korban manusia bisa berhenti bernapas hanya dalam waktu 30 menit setelah digigit kobra.

Racun ular king kobra disebut neurotoksik yang berbahaya dan menyerang sistem saraf manusia dan sistem peredaran darah serta menghancurkan sel darah merah.

Racunnya akan menghalangi komunikasi antar sel saraf yang bisa menyebabkan korban menjadi pusing.

Orang yang terkena gigitan ular ini juga akan mengalami kesulitan bernapas, berbicara, melihat. Otot-otot juga akan melemah beriringan dengan menyebarnya racun di dalam tubuh. Sekali gigit, seekor ular king kobra dapat menyuntikkan tujuh mililiter racun atau setara dengan 1,5 sendok teh pada korbannya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved