Angka KDRT di Bangka Masih Tinggi, Bupati Temukan KDRT Terjadi Terhadap Laki-Laki

"Di Kabupaten Bangka ada 32 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, tapi mengapa tidak ada kekerasan terhadap laki - laki

Angka KDRT di Bangka Masih Tinggi, Bupati Temukan KDRT Terjadi Terhadap Laki-Laki
ist/Humas dan Protokol Setda Bangka
Kegiatan Sosialisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Data Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Sabtu (14/7/2018) di Novila Hotel. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kabupaten Bangka masih tinggi,dimana pada tahun 2017 ada sebanyak 32 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Untuk itu Pemkab Bangka melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) berusaha memberikan sosialisasi dan advokasi kepada masyarakat dengan tujuan untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan  dan anak di Kabupaten Bangka.

"Di Kabupaten Bangka ada 32 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, tapi mengapa tidak ada kekerasan terhadap laki - laki," ungkap Bupati Bangka Bangka H Tarmizi Saat ketika membuka  Sosialisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Data Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Novila Hotel, Sabtu (14/7/2018) melalui rilis yang dikirimkan Humas dan Protokol Setda Bangka kepada bangkapos.com.

Diakui Tarmizi, beberapa kasus penelantaran laki-laki yakni kekerasan terhadap laki-laki juga ditemukannya di beberapa tempat di Kabupaten Bangka.

Ada seorang lelaki yang tidak lagi dilakukan perawatan karena mengalami stroke dan dibiarkan berada di ruangan yang memprihatinkan tanpa diurus oleh keluarganya.

Dia menegaskan bahwa semua kekerasan terutama KDRT merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus.  

Semuanya sudah diatur oleh pemerintah dalam Undang Undang  Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). 

Diharapkannya hal ini jangan sampai terjadi, agar antara suami istri, dapat saling menghargai dan selalu bersama dalam suka dan duka.

Selain itu permasalahan keutuhan rumah tangga yang mulanya begitu mesra, namun setelah waktu berjalan bisa hancur bahkan mengalami perceraian. 

Halaman
12
Penulis: nurhayati
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved