Kamis, 7 Mei 2026

Leisure Bangka Belitung

Komunitas Multicopter Sungailiat, Terbang Tanpa Pilot Promosikan Wisata

Kecil dan unik, memiliki baling-baling, menyerupai pesawat atau helikopter. Benda bernama drone itu

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
Ist
Ketua dan para anggota Komunitas Multicopter Sungailiat berpose saat latihan di Sungailiat Bangka.? 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari


BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Ketika benda ini mengudara, pandangan mata akan tertuju padanya.

Kecil dan unik, memiliki baling-baling, menyerupai pesawat atau helikopter. Benda bernama drone itu bisa terbang tanpa awak atau pilot, karena dikendalikan jarak jauh oleh pemiliknya menggunakan signal tertentu.

Tak heran jika akhir-akhir ini, penggunaan drone semakin populer. Banyak orang menggunakan drone untuk berbagai kepentingan.

Padahal, awalnya drone merupakan fasilitas yang hanya digunakan pihak militer atau pemerintah. Tapi kini siapa saja bisa memiliki atau mengendalikan benda tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Multicopter Sungailiat.

Kumpulan pecinta drone ini berdiri enam bulan lalu, tepatnya Tanggal 22 Maret 2018.

Hingga kini komunitas tersebut sudah beranggotakan 15 orang.

Ketua Komunitas Multicopter Sungailiat, Dedi kepada Bangka Pos, Jum'at (27/7) menjelaskan tentang kelompok yang ia pimpin.

Pria yang akrab disapa Dedi Baloy menyebut keberadaan Komunitas Multicopter bertujuan untuk memberikan edukasi pada teman-teman yang baru memiliki drone, agar bisa  mengeksplore tempat-tempat wisata melalui foto udara maupun video.

“Pertama kita ingin mengajak teman-teman yang mempunyai hobi yang sama, biar kita saling berbagi ilmu, dan untuk mengedukasi bagaimana sih cara mengoperasi drone itu sebenarnya dan seperti apa. Soalnya drone ini juga sangat berbahaya, seperti baling-baling drone  ini kan kalau kena tangan bisa luka. Karena dulu saya pernah  mengalami dan pernah luka. Karena itu perlu edukasi bagi temen-teman yang baru punya drone," kata Baloy.

Namun hal seperti itu lanjut Baloy, tak perlu ditakuti. Selama penggunaaan drone sesuai aturan, hal-hal tak diinginkan dapat dihindari.

Bagi pemula yang ingin belajar mengoperasi drone hingga mahir, hanya diperlukan waktu paling lama dua minggu.

Intinya, pemula yang ingin menerbangkan drone, harus menguasai teori, berhati-hati dan tak mudah panik. 

"Bahkan kalau dia sudah punya drone dan langsung diajarkan teman teman kita yang sudah mahir, saya rasa tidak memerlukan waktu lama, dua sampai tiga jam bisa terbang, main jarak pendek sudah bisa,” katanya.

Diakui Baloy, ada kendala saat mengoperasikan drone. Kendala yang dimaksud, antara lain, ketika drone mengalami lost signal atau gangguan signal dari handphone (HP) ke remote drone.

"Kendala yang paling fatal adalah ketakutan, seperti yang baru punya, biasanya bingung mulainya dari mana, cara menghidupanya dari mana, cara mematikan ketika darurat, ketika lost signal, itu yang  perlu kita edukasikan kepada temen-teman yang baru. Intinya jangan panik," kata Baloy, seraya memastikan, mereka sebulan sekali kumpul untuk membahas masalah-masalah yang terjadi.

Yang jelas, penggunaan drone memilki sisi positif, berguna bagi banyak orang, antara lain sebagai ajang promosi wisata. 

Menggunakan drone, orang dapat mengexplore tempat-tempat wisata melalui foto udara atau video dari ketinggian. 

"Kalau saya sendiri memiliki drone ini untuk hobi saja, buat foto-foto atau video. Makanya saya beli drone yang kecil dan simple, biar enak dibawa kemana-mana. Tapi sebagian kawan-kawan disini, drone untuk keperluan kerja.  Mereka rata-rata yang punya drone di komunitas kita ini adalah fotografer dan videografer," kata Baloy seraya menjelaskan, drone yang dimiliki Komunitas Multicopter Sungailiat, bervariasi, seperti DJI phantom, spark, mavic, harga Rp 6 juta hingga puluhan juta rupiah.(*)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved