Leisure Bangka Belitung
Ada Kuliner Belitung yang Berkaitan Denga Budaya Arab Usianya Sudah Ribuan Tahun
Dua genggam biji-bijian dituangkan oleh Marwan Hasan ke atas meja di beranda rumahnya, Senin
BANGKAPOS.COM -- Dua genggam biji-bijian dituangkan oleh Marwan Hasan ke atas meja di beranda rumahnya, Senin (5/2/2018) sore.
Pemerhati etno botani ini meyakini biji-bijian tersebut bisa jadi petunjuk dalam mengungkap hubungan antara tanah Arab dan pulau Belitung.
Satu genggam jelai dari tangan kanannya dinamai jelai cerai, sedangkan sisanya adalah jerai ketan. Keduanya adalah biji-bijian yang dihasilkan dari tanaman lokal.
“Zaman dulu jelai ini dibuat menjadi gandung oleh orang Belitung, dari gandung itu dibuatlah makanan bernama limping,” kata Marwan.
Ia kemudian membolak-balikkan sebuah buku berbahasa Inggris bertema kuliner arab.
Dalam buku tersebut ditemui sebuah makanan bernama khubz yang sama seperti limping, yang disebutkan berasal dari Yaman.
Menurut Marwan dua kuliner dari dua daerah berbeda tersebut sebetulnya memiliki kesamanan bentuk maupun cara pengolahannya.
Hanya saja limping Belitung dibuat dari gandung jelai, atau kadang dari tepung singkong atau sagu.
“Setahu saya tidak banyak daerah di sekitar Belitung yang memiliki kuliner ini, saya tahu karena dulu saya pernah sekolah di Jawa dan bekerja di Kalimantan,” kata Marwan.
Fakta mengenai Belitung Shipwreck atau situs bangkai kapal di selat gelasa semakin membuat Marwan yakin bahwa limping adalah kuliner kuno yang sudah berkembang di Belitung sejak ribuan tahun silam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/biji-jelai_20180913_093359.jpg)