Minggu, 26 April 2026

Bayi yang Lahir bermata Satu Meninggal Dunia, Ini Penjelasan Dokter

Bayi perempuan malang yang lahir dengan satu mata serta tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal, meninggal dunia

Editor: M Zulkodri
TRIBUN MEDAN
Bayi perempuan malang yang lahir dengan satu mata serta tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal, meninggal dunia, Kamis (13/9/2018). 

BANGKAPOS.COM, MEDAN - Bayi perempuan malang yang lahir dengan satu mata serta tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal, meninggal dunia, Kamis (13/9/2018).

Bayi tersebut meninggal sekitar delapan jam setelah dilahirkan. Saat ini, jenazah masih berada di RSU Panyabungan.

"Benar, barusan saja meninggal. Memang dari awal kita sudah prediksi umur bayi ini tidak lama, karena kondisinya sangat buruk," ujar Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal, Syarifuddin Nasution, saat dihubungi.

Syarifuddin mengatakan, pihak dokter sudah memprediksi bayi tersebut tidak akan bertahan lama hidup di dunia. Hal ini dikarenakan kondisinya yang begitu lemah.

Selain lahir dengan satu mata, bayi tersebut juga tidak memiliki hidung.

"Kita sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain," kata Syarifuddin.

Baca: Akhirnya Lina Buka Suara Siapa Pria Berkacamata Bersamanya, Hingga Ungkit Kelakuan Sule

Bayi perempuan lahir bermata satu dan tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal
Bayi perempuan lahir bermata satu dan tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal (Istimewa)

Syarifuddin mengatakan, kedua orangtua bayi tersebut juga masih syok atas kondisi ini.

"Ibu dan ayahnya masih syok," ujar Syarifuddin.

Baca: Pria Ini Tega Tembak Istrinya hingga Tewas hanya Karena Ditegur Kenapa Tak Dijemput

Kelahiran bayi perempuan bermata satu tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal, membuat heboh, Kamis (13/9/2018).

Menurut Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal Syarifuddin Nasution, terdapat beberapa kemungkinan penyebab kelainan tersebut.

"Kalau kata dokter spesialis bayi yang tadi melihat bersama kami, ada beberapa kemungkinan penyebab. Pertama bisa jadi karena obat-obat yang dulu dikonsumsi si ibu, kemudian bisa juga karena virus," ujar Syarifuddin saat dihubungi.

Syarifuddin pesimistis bayi perempuan tersebut dapat bertahan hidup lama. Sebab, kelahiran bayi seperti juga pernah terjadi di luar negeri. Rata-rata meninggal beberapa saat setelah dilahirkan.

Baca: 3 Menteri Sepakat 2.357 PNS Korupsi Masih Terima Gaji Dipecat

"Ini kejadian yang ketujuh. Yang terakhir di Mesir dan meninggal beberapa jam kemudian. Kalau kata dokter bayi, bayi perempuan itu tidak akan bertahan lama hidup," ujar Syarifuddin.

Syarifuddin mengatakan, anak kelima dari perempuan berinisial S ini lahir secara sesar di RSU Panyabungan.

Meski dilahirkan secara sesar, kata Syarifuddin, bayi itu tidak prematur. Berat badannya juga terbilang normal seperti bayi yang baru lahir pada umumnya. Saat dilahirkan, bayi tersebut tidak menangis dan denyut jantungnya lemah.

"Lahirnya sesar, tapi tidak prematur. Beratnya 2,4 kilogram. Waktu lahir juga tidak bagus, bayinya tidak menangis dan tidak ada gerakan. Denyut jantungnya juga di bawah seratus. Jadi kondisinya sangat parah," katanya Syarifuddin.

(nan/tribun-medan.com)

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Bayi Lahir Bermata Satu di Madina Meninggal, Syarifuddin: Kita Sudah Berupaya, Tapi. . ., http://medan.tribunnews.com/2018/09/13/bayi-lahir-bermata-satu-di-madina-meninggal-syarifuddin-kita-sudah-berupaya-tapi?page=all.
Penulis: Nanda Fahriza Batubara
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved