Diungkap Mbak Tutut, Inilah Kisah Drama Antara Dirinya dan Soeharto Dibalik Proyek Tol Cawang-Priok

di balik tenar dan terpandangnya keluarga Cendana atau keluarga Presiden RI kedua, Presiden Soeharto, ada banyak cerita tak biasa.

Diungkap Mbak Tutut, Inilah Kisah Drama Antara Dirinya dan Soeharto Dibalik Proyek Tol Cawang-Priok
instagram @tututsoeharto
Mbak Tutut bersama Presiden Soeharto dan Ibu Tien. 

Pada saat kami akan berangkat, tiba tiba bapak datang ke rumah saya, yang biasanya merupakan kebiasaan bapak menjenguk putra-putrinya.

Antara gembira karena kehadiran bapak, tapi juga bingung karena dikejar waktu penyerahan.

Bapak selalu tahu kalau saya sedang galau ataupun bingung.
Bapak bertanya pada saya : “ Kamu mau pergi wuk.”
“Iya bapak, ini batas waktu penyerahan usulan proyek jalan toll Cawang Priok.” Saya mencoba menjelaskan

Sebelum saya menjelaskan lagi, bapak langsung berkata, “ Ya sudah, segera kamu pergi, jangan sampai terlambat.”

“Bapak dengan siapa nanti.” Saya menjawab cepat.
“Sudah kamu berangkat sekarang, jangan pikirkan bapak. Bapak banyak yang nemanin.Pikirkan perjuangan kalian.”

Haru saya mendengar ucapan bapak saat itu. Saya cium tangan bapak : “ Nyuwun pangestubapak (mohon doa restu bapak).”

Bapak memeluk saya kemudian menjenggung dahi saya sambil berkata : “ Pergilah segera, jangan sampai terlambat, bapak doakan untuk kalian semua. Perjuangkan harapanmu dan kawan-kawanmu.”

Sekali lagi saya cium tangan bapak, dan langsung menuju garasi, tanpa aku sadari bapak mengikuti saya ke garasi. Beliau mengantarkan kami sampai garasi. Air mata harupun tak dapat saya bendung. Jaga bapak ibuku ya Allah.

Para pesaing kami terhenyak kaget, saat melihat kami, menyerahkan dokumen penawaran kami tepat sebelum sholat jum’at. Alhamdulillah.

Menunggu hasil pemeriksaan seluruh dokumen peserta tender, merupakan hari yang mendebarkan. Akhirnya datang berita yang kami tunggu.

Alhamdulillah, kami memenangkan tender tersebut. Sujud syukur saya lakukan. Karena ridho dan izin-Nya, kami dapat memenangkan tender yang kami laksanakan dengan pengalaman terbatas, namun dengan etos kerja yang tinggi dan kebersamaan, saling percaya, dislipin, kemauan dan keyakinan yang kuat.

Awal dari sebuah perjuangan. (Wartakota)

Ternyata Ini Kebiasaan Siti Hardiyanti Rukmana Sehingga Dipanggil Mbak Tutut

Siti Hardiyanti Rukmana, anak pertama Presiden Soeharto dan Ibu Tien menceritakan asal muasal dirinya dipanggil Tutut atau Mbak Tutut.

Ia mengisahkan itu dalam tulisannya di http://tututsoeharto.id.
Mbak Tutut menceritakan itu lantaran banyak orang bertanya tentang asal muasal nama panggilan tersebut.

Mbak Tutut pun sebenarnya sudah bertanya mengenai hal itu langsung kepada Ibu Tien saat ia masih kecil.

Begini percakapan Mbak Tutut dan Ibu Tien puluhan tahun lalu saat menanyakan asal muasal nama panggilan Tutut :

Mbak Tutut : “Bu, kenapa kok dalem (saya) dipanggil Tutut?”
Ibu Tien : “Jenengmu kuwi wuk (namamu itu nak), Siti Hardiyanti Hastuti. Bapak dan Ibu memilih panggilanmu dari nama yang terakhir. Tuti dari Hastuti.”

Ibu menjelaskan “Bapak ibu selalu nimbali (memanggil) Tut… Tuti. Tapi, kadang-kadang kalau dipanggil, nggak mau nengok. Untuk menarik perhatian kamu, bapakmu membuat panggilan lucu, Tut, Tut, Tut…
Waduh, keretanya mau lewat, berulang-ulang baru kamu nengok sambil tertawa wuk. Karena kebiasaan, akhirnya dipanggil Tutut.”

Mbak Tutut : “Oooo, begitu tho bu. Saya kira…, saya kira …, saya kira …” saya menanggapi sambil garuk-garuk kepala.

Ibu Tien : “Saya kira apa tho wuk?” Ibu bertanya, sambil memandang wajah saya heran.

Mbak Tutut : “Anu bu, saya kira, karena ibu dulu suka kentut, nyuwun sewu bu.” Saya menjawab sambil menyembah mohon maaf.

Ibu Tien : “Hush… kowe ki bocah nakal.” Ibu menjawab sambil tertawa geli. Bapak pun tersenyum mendengarkan pembicaraan kami berdua.

Gemar Hewan Liar

Mbak Tutut memang banyak membagikan kisah-kisah nostalgia dari keluarga cendana dalam situsnya dan akun instagramnya.

Salah satu kisah unik lain yang kerap dibagikan adalah kisah kegemaran keluarga cendana memelihara sejumlah satwa liar.

Kegemaran keluarga Cendana memelihara sejumlah satwa liar diungkapkan Siti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut dilakukan secara kebetulan.

Hobi itu dimulai ketika suaminya, Indra Rukmana pulang dari tugas luar kota.
Ayah dari Dandy Nugroho Hendro Maryanto, Danty Indriastuti Purnamasari, Danny Bimo Hendro Utomo itu katanya menemukan seekor anak gajah dan anak beruang madu ketika membuka lahan perkebunan tebu di Lampung Tengah, Lampung pada tahun 1980.

Satwa dilindungi itu kemudian dibawa dan dipelihara di kediaman keluarga, Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

Beruang madu diberinya nama Ochan, sedangkan anak gajah dibernya nama Dumbo.

"Mas Indra menemukan Ochan dan Dumbo ketika membuka lahan perkebunan tebu di Lampung. Lahan tebu tersebut dibuka di lahan hutan yang curah hujannya rendah, sehingga sering terbakar. Oleh karena itu dimanfaatkan, sekaligus dibuat balong-balong dan tandon air untuk menyiram tanaman sekaligus mengantisipasi agar tidak kebakaran hutan lagi," ceritanya lewat situs, http://tututsoeharto.id pada Rabu (1/8/2018).

Lahan perkebunan tebu dan pabrik gula yang hingga kini bernama Gunung Madu itu katanya sengaja dibangun atas inisiatif sang ayah, Presiden Republik Indonesia, Soeharto.

Alasan Mbak Tutut, agar Indonesia dapat memproduksi gula secara mandiri, sehingga dapat menekan biaya kebutuhan gula nasional.

"Bapak (Pak Harto) berpendapat bahwa penduduk Indonesia pengkonsumsi gula, baik untuk campuran minum kopi maupun teh. Karena itu harus bisa mensuply gula sendiri. Jangan import dari negara lain yang mengakibatkan harga gula jadi tinggi," cerita Mbak Tutut.

"Itulah kisah, bahwa keluarga saya, pernah sepermainan dengan binatang-binatang. Setelah ada peraturan yang melarang memelihara binatang buas dan harus menggembalikannya ke hutan, kami tidak memeliharanya lagi," tambah Mbak Tutut.

Selain gajah dan beruang madu, Mbak Tutut mengaku pernah memelihatara seekor harimau Sumatera yang diberinya nama Astrid dan seekor singa.

Namun sayang, singa peliharaannya diracun dan mati, sedangkan Astrid disita Taman Margasatwa Ragunan (TMR).

Walau Mbak Tutut mendukung penuh pelestarian satwa liar, menurutnya akan lebih bijak mengembalikan satwa ke alam liar apabila lengkap dengan koloninya. Sehingga satwa tidak kemudian mati saat dibebasliarkan.

"Pendapat saya terkait pelestarian satwa liar, saya setuju binatang itu dikembalikan ke habitatnya ke hutan, selama binatang itu ada keluarganya dan dapat hidup bebas.

Mereka layak hidup di hutan. Akan tetapi, bagi saya, apabila binatang itu dikembalikan ke hutan, dia malah mati karena tidak ada yang mau menerima. Karena binatang juga sangat sensitif dengan keluarganya, maka saya berpendapat, bahwa binatang itu pun layak hidup di lingkungan manusia yang menyayangi mereka sepenuh kasih. Selama itu tidak untuk diperjualbelikan," jelas Mbak Tutut. (*)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved