Terungkap, Ini yang Bikin Gempa dan Tsunami Palu hingga Tanah Meleleh, Berikut Analisanya

Kapal itu juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan area pemeruman di luar perairan Teluk Palu.

Terungkap, Ini yang Bikin Gempa dan Tsunami Palu hingga Tanah Meleleh, Berikut Analisanya
Twitter/@DigitalGlobe
Foto satelit wilayah Palu, Sulawesi Tengah yang dirilis DigitalGlobe dalam laman resmi Twitter, @DigitalGlobe, Selasa (2/10/2018). 

BANGKAPOS.COM - Kapal TNI AL, KRI Spica-934 menemukan adanya longsoran dasar laut di perairan teluk Palu, Sulawesi Tengah.

Diperkirakan longsoran ini sebagai asal kekuatan tsunami di Sulteng.

Hal itu diketahui setelah KRI Spica-934 melakukan survei dan pemetaan pasca gempa dan tsunami di perairan Teluk Palubeberapa waktu lalu.

//

KRI Spica-934 diterjunkan oleh Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal).

"Dari data yang diperoleh dan analisa tim Pushidrosal menemukan adanya longsoran dasar laut pada kedalaman 200-500 m di Tanjung Labuan atau Wani Teluk Palu," seperti dikutip dari siaran pers Pushidrosal, Jakarta, Jumat (12/10/2018).

//

Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan, KRI Spica melakukan survei full covered menggunakan Multibeam Echosounder EM-302, yang mampu mengukur kedalaman hingga 6.000 meter di dalam Teluk Palu.

Kapal itu juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan area pemeruman di luar perairan Teluk Palu.

Tujuannya memperkuat data untuk pembuatan peta tematik mitigasi bencana.

Data terbaru Pushidrosal memberikan informasi dasar laut yang lebih detail.

Dengan Multibeam Echosounder, perubahan topografi dasar laut dapat digambarkan dengan lebih jelas.

Diharapkan, data dan informasi ini menjadi dasar untuk prediksi proses-proses geologi dan menjadi informasi penting dalam usaha mitigasi bencana. 

Apa yang menyebabkan gempa?

Melansir BBC, gempa disebabkan oleh lempengan bumi yang saling bertumbukan satu sama lain.

Ini terjadi secara konstan, namun kadang tumbukannya cukup besar dan relatif dekat dengan area padat penduduk sehingga menimbulkan konsekuensi parah.

Gempa berkekuatan 7,4 pada skala Richter (SR) yang mengguncang Palu dan sejumlah daerah di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu ternyata bukan gempa pertama yang terjadi di kawasan itu.

Berdasarkan kajian LIPI, Palu dan sekitarnya beberapa kali dilanda gempa sejak berabad lampau.

Hal ini erat kaitannya dengan Patahan Palu Koro yang melintasi Sulawesi Tengah.

Penelitian yang dilakukan Mudrik Rahmawan Daryono dari LIPI sejak 2011 lalu, mengindikasikan bahwa Patahan Palu Koro aktif. Indikasinya adalah terdapat rentetan gempa besar dalam periode waktu tertentu.

Dalam penggalian tanah sedalam 15 sampai 20 meter yang dilakukan, gempa besar pernah terjadi pada tahun 1285 dan 1415. Lapisan tanah lainnya mengindikasikan gempa pernah terjadi pada tahun 1907, 1909, dan pada tahun 2012.

palu

Mudrik mendapati bahwa terjadi pergeseran alur sungai yang mengalir di atas patahan Palu Koro.

Alur sungai terpotong sejauh 510 meter dan naik 20 meter di bagian patahan terdekat dari Kota Palu. Di titik lainnya, sekitar Taman Nasional Lore Lindu yang dilewati patahan, alur sungai yang terpotong mencapai 585 meter dan mengalami penaikan setinggi 50 meter.

"Ini akibat gempa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu," ujar Mudrik.

Mudrik mengatakan gempa terjadi akibat siklus yang berulang setiap periode tertentu. Akan tetapi, tidak mudah menentukan siklus gempa di setiap sesar yang membentang.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, memaparkan bahwa Indonesia memiliki peta zonasi gempa.

Sulawesi Tengah, khususnya di jalur Patahan Palu Koro, masuk dalam kategori merah sampai cokelat dengan nilai percepatan gempa bumi pada batuan dasar kisaran 0,7 sampai lebih dari 1,2 g (gravitasi m/2det).

Ini artinya kawasan tersebut amat rawan gempa bumi.

Satu langkah paling konkret yang bisa direkomendasikan adalah tidak diperkenankan untuk membangun rumah, bahkan bangunan vital seperti rumah sakit di atas patahan aktif Palu Koro.

"Bangunan di atas patahan kemungkinan besar akan hancur, setidaknya berikan jarak 20 meter dari patahan untuk dikosongkan dari segala bentuk bangunan." Kata Mudrik Daryono, Peneliti Gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pada 28 September di Palu, getaran-getaran kecil terjadi sepanjang hari, namun gempa 7,4 pada skala Richter berlangsung saat Patahan Palu Koro yang melintasi Kota Palu, bergeser sekitar 10 kilometer di bawah permukaan tanah.

Sejak saat itu, ada sedikitnya 500 gempa susulan di Palu, yang sebagian besar di antaranya tidak dirasakan warga.

Wilayah Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.

Tsunami Palu

Selain berada di antara lempeng-lempeng utama dunia, posisi Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yaitu daerah 'tapal kuda' sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik.

Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

Peta Ring of Fire
Sumber: USGS

Apa yang menyebabkan tsunami?

Bagaimana bisa kenaikan permukaan laut setinggi 6cm, yang dideteksi BMKG setelah gempa, bisa membentuk gelombang setinggi 6 meter? Itu karena bentuk Teluk Palu.

Wujudnya yang panjang dan menyempit menyebabkan kecepatan dan tinggi gelombang semakin bertambah saat menuju Kota Palu.

Map of Palu bay

Saat pertama menerjang, tsunami merontokkan Jembatan Ponulele yang menghubungkan Palu Timur dan Palu Barat.

Mengambil nama mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Aminuddin Ponulele, jembatan kuning itu merupakan ikon Kota Palu.

Kini, sebagian jembatan tersebut roboh dan tenggelam.

Damaged bridgeGETTY IMAGES

Gelombang tsunami menerjang bagian ujung Teluk Palu, kawasan yang paling banyak dihuni penduduk di Kota Palu dan seluruh Sulawesi Tengah.

Berdasarkan data statistik Pemkot Palu, ada 374.000 yang tercatat bermukim di kota tersebut pada 2016.

PaluSATELLITE IMAGE ©2018 DIGITALGLOBE, A MAXAR COMPAN

Tayangan video yang diambil dari Palu Grand Mall menggunakan sebuah telepon seluler, memperlihatkan air di tepi pantai surut beberapa meter menuju lautan lepas.

Beberapa menit kemudian, air keruh mengelilingi kawasan tersebut seraya menyeret mobil dan pohon.

Gelombang tsunami juga melahap seluruh desa-desa nelayan serta sebagian besar infrastruktur.

Saat artikel ini ditulis, jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.073 orang.

Kebanyakan meninggal akibat tsunami, menurut BNPB.

Selain itu, sebanyak 10.679 orang cedera, 680 orang hilang, dan 82.775 menjadi pengungsi.

Tidak ada korban yang ditemukan dalam keadaan hidup sejak pencarian memasuki hari ketiga.

Tsunami Palu

Apa yang menyebabkan tanah menjadi cair?

Setelah gempa dan tsunami melanda, ada fenomena lain yang terjadi, yaitu likuifaksi.

Likuifaksi berlangsung pada tanah berpasir yang mudah terendam air, seperti tanah di Kota Palu yang dekat dengan laut.

Guncangan yang ditimbulkan gempa menyebabkan tanah kehilangan ikatan sehingga melarut seperti air dan mengalir, membawa bangunan dan kendaraan di atasnya ikut serta.

(Kompas.com/Yoga Sukmana/BBC.com)

Artikel ini sebagian telah tayang di Kompas.comdengan judul "Kapal TNI AL Temukan Longsoran Dasar Laut di Teluk Palu"

Editor: Alza Munzi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved