Kisahnya Mendunia, Rori Melihat Ibunya 'Ditelan' Bumi Saat Gempa Palu

Kesaksian Rori Mendunia Ketika Ia Melihat Ibunya Meninggal 'Ditelan' Bumi Saat Gempa Palu

BANGKAPOS.COM - Seorang wanita korban gempa dan tsunami Sulawesi Tenggara (Sulteng) menceritakan detik-detik tragis kepergian ibunya.

Kesaksian Rori Oryza (29), nama wanita itu, dimuat media asing Daily Mirror, Jumat (12/10/2018).

Rori mengatakan, ibunya meninggal seolah ditelan bumi yang tiba-tiba terbelah.

Ketika gempa 7,4 SR mengguncang Palu, Rori melihat tanah terbuka.

Ibunya kemudian jatuh ke retakan tanah itu, yang kemudian tertutup lagi sementara getaran gempa terus berlanjut.

"Saya mencoba menyelamatkan Ibu, tetapi bumi terbelah. Ibu jatuh ke belakang dan 'ditelan' tanah yang bergerak," kata Rori.

"Sedangkan saya jatuh ke depan, dan ada mobil jatuh di atas saya. Terus kaki kanan saya patah," lanjut ibu seornag bayi berusia 6 bulan bernama Reysi ini.

Berbagai pesan duka untuk Rori pun juga membanjiri Facebook.

"Turut berduka cita atas atas meninggalx ibu dan nenek dari sahabat kami Rori Oryza Elok ...dari kemarin khawatir sama kamu dek saya chat ndak ada balasan..

semoga kamu cepat pulih ,anak dan suami juga dalam keadaan selamat dan sehat...semoga Allah beri Kamu kesabaran dan ketabahan dek..." tulis Sri Akbar, Sabtu (29/9/2018).

"Doa kami slalu untk smua korban yg tdk bsa selamat,untk keluarga Rori Oryza Elok yg kuat & sabar.qta hanya bsa mendoakan mrk yg tdk bsa selamat,alfatiha untk mereka smua," ungkap Dianita Rusdy Bachtiar, Kamis (4/10/2018).

Kemudian pada Jumat (5/10/2018), akun Rheyza Virgiawan D'firstmenuliskan unggahan sebagai Rori dan memberikan kabar bahwa dirinya sedang dalam masa pemulihan.

"sy Rori Oryza Elok

untuk teman dan keluarga yg tanya tentang kondisi sy. Alhamdulillah sy masi selamat skrg lagi masa pemulihannn....

sy minta doanya untuk mamah sy tercintaaa Elok Wati kk ipar dan 2 ponakan sy segera di temukann...

alhamdulillah nenek sy td sdh di temukan jenazahnya...!!!!

Mohonnn doanyaaaa teman2...

Ya Allahhhh sampai detik ini sy masi berharap mukzijatMU Ya Allah..." bunyi unggahan itu.

Diketahui, gempa dan tsunami disertai likuefaksi melanda Palu dan Donggala, Sulteng serta sekitarnya, Jumat (28/9/2018).

Namun dikabarkan, setelah dua minggu berlalu, Matahari Department Store Palu sudah dibuka.

Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu pun mulai menunjukkan aktivitas lagi.

Sempat Ditelan Lalu Dimuntahkan Bumi

Gempa di Sulawesi Tengah masih menyisakan banyak cerita pilu. 

Di antaranya kisah Ramna, korban gempa Palu yang selamat dari likuefaksi.

“Saya sudah masuk dalam rekahan bumi yang tiba-tiba terbelah, namun saya kemudian didorong ke atas oleh tanah yang ada di dalamnya,” kata Ramna (33), warga Petobo yang selamat dari bencana likuefaksi di Sulawesi Tengah ( Sulteng), Jumat (19/10/2018).

Ramna mengira akan mati tertelan bumi saat gempa bumi bermagnitudo 7,4 di Sulteng.

Namun ia masih diberi kesempatan untuk meneruskan kehidupan ini.

Ramna (33) warga Petobo Kota Palu sedang mencuci alat masak di pengungsian. Ia selamat dari bencana likuefaksi setelah dimuntahkan bumi.itor: Daryono
Ramna (33) warga Petobo Kota Palu sedang mencuci alat masak di pengungsian. Ia selamat dari bencana likuefaksi setelah dimuntahkan bumi.itor: Daryono (KOMPAS.com/ROSYID AZHAR)

Baca: Desi Warga Palu Saksikan Tetangganya Tenggelam Ditelan Lumpur yang Muncul dari Perut Bumi

Ia selamat bersama sejumlah tetangganya yang kini mengungsi di depan komplek pekuburan Petobo.

Padahal banyak warga Petobo yang menjadi korban likuefaksi, mereka tenggelam dalam tanah yang mereka pijak yang tiba-tiba menjadi lumpur saat digoyang gempa hebat.

“Jika tidak dimuntahkan lagi oleh tanah, saya pasti tenggelam dalam lumpur. Saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup,” ujar Ramna sambil mencuci alat masaknya.

Untuk keluar dari bencana ini, Ramna mengaku tertolong oleh pohon yang tumbang.

Saat ia didesak ke atas oleh tanah dalam rekahan, ia sempat meraih cabang pohon yang tumbang di atasnya.

Lewat kayu inilah ia sekuat tenaga berdiri dan keluar dari rekahan tanah.

Setelah berada di atas, secepatnya ia keluar dari “neraka” lumpur Petobo dan mencari tempat yang aman.

Untungnya dari tempatnya ini tidak jauh ada lokasi yang aman.

Namun malang bagi mertuanya, Harina (60), wanita bertubuh besar ini terseret dalam puing-puing rumahnya dan meluncur ke bagian bawah.

Di dalam puing ini ia tidak sendiri, ada Rollly (39), anak Harina dan Vini (16) anak Ramna yang tinggal dengan neneknya.

“Rolly memang cacat sejak lama, ia tidak bisa apa-apa dalam menghadapi bencana ini,” tutur Ramna.

Baca: Pasha Ungu Sampai Menangis dan Nyatakan Siap Mundur saat Bicara Bencana Gempa Palu

Terjebak dalam puing-puing rumah membuat Harina, Rolly dan Vini tidak bisa apa-apa meskipun mereka berusaha keras ingin keluar dari himpitan beton.

Yang tragis adalah, saat terhimpit reruntuhan rumah, ketiga korban bersama material yang menghimpitnya ini hanyut terbawa arus lumpur ke bagian bawah.

Untunglah posisi puing berada di bagias atas sehingga mereka tidak tertimbun lumpur dan puing lainnya.

Malam itu Arifin, anak Harina yang menjadi suami Ramna mencari mereka dalam lumpur yang masih basah.

Bersama warga lainnya mereka menyisir puing-puing bangunan yang bercampur lumpur.

Suara erangan kesakitan dan minta tolong bergema di mana-mana, semua berusaha menolong apa yang bisa diselamatkan.

“Saya dapatkan ibu terjebak dalam reruntuhan, ia tidak bisa keluar karena kaki dan badannya terjepit,” kata Arifin.

Rolly dan Vini lebih dulu dievakuasi, dan segera mendapatkan perawatan di tempat yang lebih baik.

Namun nenek Harina masih harus berjuang untuk bisa keluar dari kubangan lumpur yang nyaris menenggelamkan seluruh tubuhnya.

“Ibu saya badannya gemuk, sudah tua, ia sangat lemah,” tutur Arifin.

Jumat malam itu Arifin sekuat tenaga menyingkirkan beton yang menghimpit ibunya, tidak mudah bagi Arifin, apalagi lumpur cair mengubur sebagian besar tubuh orang yang sangat dicintainya ini.

“Dalam fikiran, saya harus menyelamatkan ibu, saya rela mati untuk ibu saya, apapun akan saya lakukan,” tutur Arifin di pengungsian.

Dengan berbagai alat yang dipunyai, ia membongkar sedikit demi sedikit material beton yang mengurung ibunya.

Lapar dan haus tidak dihiraukan, semua orang yang menolong keluarganya di sini merasakan yang sama.

Tidak ada bantuan dari manapun, Arifin dan masyarakat Petobo berjuang sendiri-sendiri untuk menyelamatkan keluarganya dari penderitaan yang memilukan ini.

“Semua lapar, termasuk ibu. Saya memberi makan jajanan anak yang berasal dari puing-puing warung yang ikut hanyut tidak jauh dari tempat ibu terjepit,” papar Arifin.

Menjadi pengungsi

Setelah berjuang lama, pada Sabtu sore ibunya bisa dibebaskan dari jepitan material rumah.

Ia membawanya ke tempat pengungsian.

Dengan tertatih-tatih, Arifin menggendong ibunya.

Perjuangan tak kenal lelah berbuah keberhasilan. 24 jam Harina meringkuk tak berdaya di puing-puing rumah bercampur lumpur di Petobo.

Ia nyaris putus asa, namun doa terus ia panjatkan agar bisa selamat dari bencana ini.

Baca: Hari Ini Kemenkumham Umumkan Hasil Seleksi Administrasi CPNS 2018, Cek di Laman Ini

Ia bahkan telah membayangkan jika akhir hidupnya dalam kondisi seperti ini ia sudah menerima ikhlas, ia seperti menghadapi kematian di samping anak kandungnya yang tengah berusaha menyelamatkan.

Namun kehendak Tuhan berkata lain, doanya dan doa anaknya dikabulkan Tuhan.

Ia bisa diselamatkan.

“Jika saya pasrah menerima nasib ini, mungkin ibu saya sudah tak terselamatkan, saya bersyukur,” ujar Arifin.

Tidak ada perawatan bagi Harina, ia hanya dibawa ke tenda pengungsian.

Wanita sepuh ini pasrah dengan terluka.

Namun pada Kamis (18/10/2018) siang Harina dijumput petugas kesehatan untuk dibawa ke rumah sakit.

“Ada polisi yang membawa ibu ke Rumah Sakit Bayangkara,” kata Ramna.

Hari-hari Ramna dan Arifin dilalui di tenda pengungsian yang tidak jauh dari pekuburan Petobo.

Mereka hidup dari pasokan pangan posko bantuan.

Baca: BNPB Beberkan Fenomena Rumah Bergerak dan Amblas saat Gempa Palu

Ia tidak sendirian, ada ribuan orang yang mengalami nasib sama, bahkan banyak yang kehilangan anggota keluarganya.

Tempat pengungsian Ramna memang hanya tenda yang didirikan di tanah samping jalan, siapa saja bisa menyinggahi, termasuk sanak saudaranya yang membawa bantuan untuk keluarga ini.

Namun serombongan sapi dan kambing juga sehari-hari menyinggahi tenda-tenda ini, mereka mencari rumput atau kulit pisang yang dibuang pengungsi.

Jika tidak segera dihalau, satwa peliharaan ini bisa menabrak-nabrak tenda, juga membuang kotoran seenaknya di sembarang tempat.

“Kami berharap ibu bisa sehat dan pulih kembali,” kata Arifin.(Kompas.com/Kontributor Gorontalo, Rosyid A Azhar)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Korban Likuefaksi: Ramna Dimuntahkan Bumi dan Ibunya yang Terimpit Beton

Editor: teddymalaka
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved