Wanita Ini Selamat Dimuntahkan Neraka Lumpur Gempa Palu dan Suami Rela Mati Demi Ibunya

Ramna mengira akan mati tertelan bumi saat gempa bumi bermagnitudo 7,4 di Sulteng.

Wanita Ini Selamat Dimuntahkan Neraka Lumpur Gempa Palu dan Suami Rela Mati Demi Ibunya
KOMPAS.com/ROSYID AZHAR
Ramna (33) warga Petobo Kota Palu sedang mencuci alat masak di pengungsian. Ia selamat dari bencana likuefaksi setelah dimuntahkan bumi. 

Tidak ada bantuan dari manapun, Arifin dan masyarakat Petobo berjuang sendiri-sendiri untuk menyelamatkan keluarganya dari penderitaan yang memilukan ini.

“Semua lapar, termasuk ibu. Saya memberi makan jajanan anak yang berasal dari puing-puing warung yang ikut hanyut tidak jauh dari tempat ibu terjepit,” papar Arifin.

Menjadi pengungsi

Setelah berjuang lama, pada Sabtu sore ibunya bisa dibebaskan dari jepitan material rumah.

Ia membawanya ke tempat pengungsian.

Dengan tertatih-tatih, Arifin menggendong ibunya.

Perjuangan tak kenal lelah berbuah keberhasilan. 24 jam Harina meringkuk tak berdaya di puing-puing rumah bercampur lumpur di Petobo.

Ia nyaris putus asa, namun doa terus ia panjatkan agar bisa selamat dari bencana ini.

Ia bahkan telah membayangkan jika akhir hidupnya dalam kondisi seperti ini ia sudah menerima ikhlas, ia seperti menghadapi kematian di samping anak kandungnya yang tengah berusaha menyelamatkan.

Namun kehendak Tuhan berkata lain, doanya dan doa anaknya dikabulkan Tuhan.

Ia bisa diselamatkan.

“Jika saya pasrah menerima nasib ini, mungkin ibu saya sudah tak terselamatkan, saya bersyukur,” ujar Arifin.

Tidak ada perawatan bagi Harina, ia hanya dibawa ke tenda pengungsian.

Wanita sepuh ini pasrah dengan terluka.

Namun pada Kamis (18/10/2018) siang Harina dijumput petugas kesehatan untuk dibawa ke rumah sakit.

“Ada polisi yang membawa ibu ke Rumah Sakit Bayangkara,” kata Ramna.

Hari-hari Ramna dan Arifin dilalui di tenda pengungsian yang tidak jauh dari pekuburan Petobo.

Mereka hidup dari pasokan pangan posko bantuan.

Ia tidak sendirian, ada ribuan orang yang mengalami nasib sama, bahkan banyak yang kehilangan anggota keluarganya.

Tempat pengungsian Ramna memang hanya tenda yang didirikan di tanah samping jalan, siapa saja bisa menyinggahi, termasuk sanak saudaranya yang membawa bantuan untuk keluarga ini.

Namun serombongan sapi dan kambing juga sehari-hari menyinggahi tenda-tenda ini, mereka mencari rumput atau kulit pisang yang dibuang pengungsi.

Jika tidak segera dihalau, satwa peliharaan ini bisa menabrak-nabrak tenda, juga membuang kotoran seenaknya di sembarang tempat.

“Kami berharap ibu bisa sehat dan pulih kembali,” kata Arifin.(Kompas.com/Kontributor Gorontalo, Rosyid A Azhar)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Korban Likuefaksi: Ramna Dimuntahkan Bumi dan Ibunya yang Terimpit Beton" 

Editor: Alza Munzi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved