OPINI - Orang Indonesia di Thailand Sejak Era Siam

Topik kajian ini menarik perhatian penulis yang telah tinggal di Thailand selama hampir 7 tahun.

OPINI - Orang Indonesia di Thailand Sejak Era Siam
Istimewa
Zamal Nasution 

Selama perang dunia II, sebagian budak (romusha) dibawa oleh penjajah Jepang untuk membangun jembatan yang menghubungkan perbatasan Thailand - Myanmar di propinsi Kanchanaburi.

Selepas perang, mereka gagal kembali pulang kampung dan akhirnya menetap di Thailand (Hays, 2015). Begitu juga nasib para pelarian politik pasca peristiwa 1965 yang melarikan diri sampai Thailand dan menjadi warga setempat (Schaefter, 2006).

Peninggalan sejarah yang dipercaya berasal dari tanah Jawa yakni ditemukannya ratusan pohon asem (tamarin) ditanam di sekeliling tanah lapang Luang (Sanam Luang) dekat istana Grand Palace yang berarti berada di sekitar tempat kerja tukang kebun asal Jawa Tengah.

Demikian juga peninggalan masjid Jawa yang dibangun mereka di daerah Sathorn tengah kota Bangkok, dengan arsitektur yang mirip bagian atap masjid di Jawa Tengah meskipun bagian teratas stupa telah hancur dimakan usia dan diganti dengan material yang disesuaikan.

Beberapa keluarga yang tinggal di sana masih memelihara bukti peninggalan Indonesia seperti upacara kenduri menjelang dan sehabis Ramadhan, berbahasa Jawa dan Indonesia, dan rumah panggung. Belakangan ini sejak 2017 dengan disponsori organisasi Diaspora Indonesia, diadakan pelatihan Bahasa Indonesia di masjid Jawa dengan peserta berkisar 5-10 orang tiap akhir minggu.

Sebuah nama khas populer dari Yogyakarta yaitu "Dahlan" bisa ditemui di sini karena memang keturunan pendiri organisasi Muhammadiyah yakni anak dari Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mendapatkan asilum dari pemerintah Thailand selulusnya dari belajar di Pakistan.

Seorang tokoh masyarakat Thailand yang juga pelopor meningkatnya kesadaran atas status halal di industri produk makanan, minuman, dan kosmetik; beliau yaitu Profesor Winai Dahlan yang mendirikan Halal Science Institute yang berafiliasi dengan Chulalongkorn University di Bangkok.

Lembaga ini bekerjasama dengan Islamic Committee of Thailand semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menjadikannya sebagai otoritas surveyor ke-halal-an suatu produk, di Indonesia mirip dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM MUI).

Kegiatannya selain rutinitas di lokal Thailand, juga sering diundang memberikan pelatihan oleh lembaga sejenis di Asia Tenggara termasuk di Indonesia.

Bila diobservasi di internet, berita terkait masyarakat Indonesia di Thailand banyak di antaranya merupakan laporan kunjungan baik sebagai turis maupun kisah pengalaman selama bekerja, kuliah, ikut keluarga; belum ada yang merupakan studi terstruktur yang ditulis oleh orang Indonesia.

Halaman
1234
Penulis: Alza Munzi
Editor: Alza Munzi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved