Antipasi Musim Hujan, Awas DBD Menyerang

Peningkatan kasus DBD ini terjadi hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Bangka

Antipasi Musim Hujan, Awas DBD Menyerang
Istimewa
Sopianto 

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Memasuki musim hujan ini masyarakat di Kabupaten Bangka harus waspada terhadap bahaya penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka tercatat saat ini, jumlah penderita DBD sebanyak 93 kasus atau mengalami peningkatkan dibanding tahun 2017 sebanyak 62 kasus.

"Peningkatan kasus DBD ini terjadi hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Bangka," jelas Kasi Pencegahan dan Pengedalian Penyakit Menular, Surveilans dan Imuniasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Sopianto, Selasa (18/12/2018) kepada bangkapos.com.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Bangka melalui dinas terkait mengajak seluruh masyarakat di daerah itu mencegah penyebaran DBD.

"Potensi penyebaran DBD pada saat musim penghujan sangat besar sekali karena banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk," ungkap Sopianto.

Oleh karena itu, pihaknya menyarankan agar masyarakat mengerakan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jurantik) guna memberikan penyadaran masyarakat termasuk anak sekolah ikut peduli memantau kondisi lingkungannya masing-masing.

Menurut Sopianto, pencegahan penyebaran berkembangbiaknya jentik nyamuk harus memperhatikan pola penanganan yang efektif mulai menutup penampungan air,

menguras secara rutin seminggu sekali penampungan air dan mengubur barang bekas seperti, ban, kaleng, pot dan barang bekas lainnya yang tidak bermanfaat karena barang bekas itu dapat menjadi penampungan air.

"Langkah teknis pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat dengab menyikat dinding penampungan air karena telur nyamuk masih dapat bertahan hidup dengan virus DBD.

Dinding penampungan air harus dalam kondisi bertahan bersih karena masih berpotensi terjadi penetasan larva pupa dewasa," jelas Sopianto.

Untuk itu dalam penanganan kasus DBD dilakukan penatalaksanaan kasus perawatan di rumah sakit sedangkan pihak dinas kesehatan berperan dalam upaya mencegah meluasnya kasus baru melalui kegiatan penyelidikan epidemiologi.

"Untuk mencegah penyakit DBD ini kami melakukan kegiatan langsung ke masyarakat terutama masyarakat penderita DBD untuk sosialisasi tentang bahaya DBD. Selain itu anatisasi dan pemeriksaan kasus deman di sekitar rumah penderita untuk antisipasi terjadinya kasus baru," kata Sopianto.
    
Sedangkan untum kegiatan fogging atau penyemperotan asap hanya bersifat sementara karena hanya membunuh nyamuk dewasa, fogging hanya mampu menjangkau radius 100 meter disekitar wilayah penderita sebagai upaya penanganan lanjut.

"Untuk penanganan atau pencegahan penyebaran DBD harus dilakukan secara terpadu melibatkan seluruh perangkat desa untuk berperan aktif melibatkan masyarakatnya melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M yaitu menguras, menutup dan mengubur," saran Sopianto.(*)

    

Penulis: nurhayati
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved