Ini Empat Kerawanan Berpotensi Konflik di Belitung

Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana mengatakan selama kurun waktu 2018, pihaknya telah memetakan kerawanan yang

Ini Empat Kerawanan Berpotensi Konflik di Belitung
posbelitung.co/dede s
Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana beserta jajarannya menggelar konfrensi pers terkait situasi Kambtimas sepanjang tahun 2018, Sabtu (29/12/2018). 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - ‎Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana mengatakan selama kurun waktu 2018, pihaknya telah memetakan kerawanan yang berpotensi menimbulkan konflik dan sedang dalam penanganan jajaran Polres Belitung.

‎Pertama, penolakan pembangunan Gereja HKBP di Jalan Karya Bakti IV, Dusun Perawas II, Dusun Buluh Tumbang, RT 05, RW 02, Kecamatan Tanjungpandan.

Ia mengatakan, masyarakat setempat melakukan penolakan dikarenakan pihak gereja belum memenuhi persyaratan dan perijinan yang diperlukan.

"Kami terus memantau ini dan juga sudah mendapat atensi dari Pemkab Belitung yang sudah melakukan pertemuan.

Ini akan terus dilakukan pertemuan antara dua belah pihak supaya dapat diproses perijinan yang diperlukan yang menjadi poin penolakan masyarakat," ujar Yudhis saat menggelar konfrensi pers, Sabtu (29/12/2018).

Kedua, penolakan beroperasinya tempat hiburan bernama XBAR yang dilakukan warga sekitaran Jalan Patimura, RT 09 RW 05, Kelurahan Tanjungpendam.

Menurut Yudhis, penolakan dikarenakan pihak pengelola juga belum mengurus perijinan ‎sehingga mereka belum diperbolehkan mengoperasikan tempat hiburan tersebut.

"Sampai saat ini masih belum bisa dibuka dan belum mendapatkan ijin dari pemerintah," ungkapnya.

Ketiga, dugaan limbah pabrik PT Forestasi Lestrai Dwikarya yang mencemari sungai di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong.

Menurut Yudhis, pihak masyarakat setempat maupun perusahaan sama-sama menempuh jalur hukum dengan cara melakukan pengecekan laboratorium terkait dugaan pencemaran tersebut.

"Ini tetap berlangsung tapi masih bisa terkendali, karena tidak terjadi tindakan anarkis dari masyarakat setempat," katanya.

Keempat, masih terjadinya sengketa lahan eks kaolin Martapura dengan masyarakat Kelurahan Lesung Batang.

Menurutnya beberapa warga mengklaim kepemilikan lahan di atas tanah tersebut tetapi legalitasnya masih diperjelasnya.

"Sengketa ini masih terus kami pantau perkembangannya," katanya.(*)

Penulis: Dede Suhendar
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved