Angin Kencang Masih Akan Melanda Indonesia, Waspada Puting Beliung

Berdasarkan analisis BMKG, kondisi atmosfer pada Senin (31/12/2018) pukul 07.00 WIB, teridentifikasi adanya peningkatan tekanan udara di dataran Asia.

Angin Kencang Masih Akan Melanda Indonesia, Waspada Puting Beliung
BMKG
Ilustrasi Update Cuaca Bangka Belitung 24 Desember 2018. 

BANGKAPOS.COM - Badan Meteorologi KlimatologI dan Geofisika (BMKG) kini tengah menganalisis kondisi atmosfer di Indonesia.

Berdasarkan analisis BMKG, kondisi atmosfer pada Senin (31/12/2018) pukul 07.00 WIB, teridentifikasi adanya peningkatan tekanan udara di dataran Asia.

Selain itu, terpantau juga bibit siklon di sebelah utara Indonesia yakni 97W tepatnya di Laut China Selatan.

BMKG juga mengidentifikasi adanya bibit siklon tropis 95P di Teluk Carpentaria Australia (sebelah selatan Papua) dan 96S di samudera Hindia (sebelah selatan Jawa).

Baca: BMKG Akui Ada Pasang Surut Tak Biasa di Bangka Selatan Hari Ini, Simak Penjelasannya

Dari ketiga bibit siklon yang ada di sekitar Indonesia, bibit siklon 95P yang berada di Teluk Carpentaria yang memiliki kecepatan angin maksimum 25 knots di pusatnya.

Sedangkan bibit siklon 97W yang berada di Laut China Selatan dengan kecepatan angin maksimum 20 knots di pusatnya.

Keduanya berpotensi tinggi menjadi siklon tropis dalam 24 - 48 jam ke depan.

Kondisi ini menyebabkan pergerakan massa udara dari Asia yang bergerak menuju Indonesia mengalami penguatan.

Baca: BMKG: Waspada Gelombang Tinggi 31 Desember 2018 hingga 3 Januari 2019

Lantas, apakah penguatan pergerakan massa udara tersebut dapat memicu puting beliung?

Dikutip Tribunnews.com dari Kompas.com, Deputi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Mulyono R. Prabowo menjelaskan bahwa munculnya angin puting beliung memiliki gejala yang khas dan semuanya tergantung pada kondisi lingkungan.

Prakiraan Potensi Angin Kencang dan Gelombang Tinggi jelang tahun baru 2019
Prakiraan Potensi Angin Kencang dan Gelombang Tinggi jelang tahun baru 2019 (BMKG.go.id)

Mulai dari pembentukan awan, kondisi wilayah sekitar, dan kecepatan angin.

"Tergantung jenis awannya," kata Mulyono.

"Kalau awannya kumulonimbus yang menjulang ke atas dan luasan yang tertutup awan tidak terlalu luas, kemungkinan memunculkan hujan lebat lebih mungkin dibanding awan yang melebar," sambungnya.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved