Breaking News:

2 Tahun di Taiwan, Dedy Ungkap Fakta Soal Mahasiswa, Pekerjaan, Hingga Makanan Non Halal

Aturan di Taiwan kata Dedy cukup ketat. Khusus untuk mahasiswa international yang bekerja hanya diperbolehkan bekerja selama 20 jam per minggu

BANGKA POS / HENDRA
DPRD Babel melakukan pertemuan dan audiensi dengan Sekda Babel, Dinas Pendidikan terkait kabar mahasiswa Babel di Taiwan yang diberitakan dipaksa bekerja dan memakan makanan non halal, Kamis (3/1/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kabar mahasiswa Indonesia di Taiwan diperlakukan kerja paksa dan memakan makanan non halal telah meresahkan. Saat ini sekitar 7000 mahasiswa asal Indonesia, termasuk dari Bangka Belitung berada di sana. Mereka bekerja dan kuliah di berbagai perguruan tinggi di Taiwan.

Dedy Ramdhani, Kepala KUI Polman Babel, mempunyai pengalaman di Taiwan. Dia sekitar 2 tahun kuliah di Taiwan. Bahkan juga mengatakan sempat bekerja di sebuah toko roti untuk mendapat tambahan penghasilan.

Aturan di Taiwan kata Dedy cukup ketat. Khusus untuk mahasiswa international yang bekerja hanya diperbolehkan bekerja selama 20 jam per minggu.

“Tapi mereka bisa bekerja tambahan. Syaratnya juga ada dan harus dipenuhi tenaga kerja atau mahasiswa di sana. Mereka harus mendapat izin kerja tambahan dari otoritas di Taiwan,” kata Dedy, Kamis (3/1/2019) saat ditemui di DPRD Babel.

Pemerintah Taiwan lanjut Dedy menerapkan aturan pembangunan perguruan tinggi pun cukup ketat. Harus memiliki fasilitas lengkap, laboratorium, asrama, kolam renang, tempat olahraga, perpustakaan serta areal kampus yang luas dan aturan lainnya.

Sebaliknya di Indonesia, kata Dedy banyak perguruan tinggi hanya membangun gedung saja. Fasilitas untuk mahasiswa pun banyak yang kurang.

“Dosen pun di sana tidak boleh S1, minimal harus S3. Kalau di Indonesia, banyak yang S1 sudah menjadi dosen. Di sana tidak ada asisten dosen, jadi yang mengajar harus dosen saja. Mahasiswa ada hanya yang terlibat dalam proyek di laboratorium saja,” ujar Dedy.

Terkait dengan makanan, diakui Dedy memang banyak resto yang menyediakan makanan non halal. Akan tetapi, untuk urusan makanan masyarakat Taiwan sangat menghormati warga asal Indonesia.

Tak hanya di restoran, tapi di tempat kerja juga makanan halal bisa disajikan. Asalkan sesuai dengan permintaan.

“Mereka sangat menghormati kita dari Indonesia. Biasanya mereka langsung mengganti makanan dengan yang halal. Ada juga yang tahu kalau kita orang Indonesia mereka melarang kita untuk memakan makanan di tempat mereka. Di toko-toko atau restoran pun mereka bisa mengganti dengan makanan halal,” kata Dedy.

Tapi diakuinya beberapa mahasiswa asal Indonesia tak cocok dengan kondisi di Taiwan. Ada yang sampai ingin pulang karena kondisi tersebut.

“Kalau cocok atau tidak, itu tergantung masing-masing saja. Ada yang minta tidak mau kuliah tapi cuma mau kerja saja. Tapi kan tidak bisa, karena aturannya berbeda,” ujar Dedy. (WARTAWAN BANGKA POS / HENDRA)

Penulis: Hendra
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved