8 Fakta Menarik Dugaan Mahasiswa Indonesia Kerja Paksa di Taiwan Ternyata Dibayar Segini

abar dugaan ratusan mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di Taiwan kerja paksa sepertinya tak sepenuhnya tepat.

8 Fakta Menarik Dugaan Mahasiswa Indonesia Kerja Paksa di Taiwan Ternyata Dibayar Segini
bangkapos.com/ist
Foto mahasiswa asal Bangka Belitung di Taiwan 

Hal tersebut dikarenakan dirinya dan sang anak terus berkomunikasi intensif.

"Inikan sudah yang kedua kalinya. kalau yang pertama jujur sempat khawatir. namun setelah mendegar langsung dari anak saya, mereka baik-baik saja. malah mengaku sebulan naik berat badannya 4 kg," ujar Minarni.

Minarni menyebutkan semua kebutuhan dan fasilitas anaknya terjamin mulai dari tempat tinggal hingga transportasi yang terbilang aman.

"Intinya mereka bahagia dan betah di Taiwan, kadang kalau satu minggu saat libur malah jalan-jalan keliling Taiwan," ucapnya.

Komunikasi lanjut Minarni menjadi kunci dirinya tidak begitu mengkhawatirkan kondisi anaknya di taiwan.

Jadi, berita apapun yang beredar bisa langsung dikroscek kebenarannya agar tidak membuat keluarga di Bangka Belitung gelisah.

Mahasiswa Bangka Belitung di Taiwan
Mahasiswa Bangka Belitung di Taiwan (posbelitung.co/ist)

"Alhamdulilah kita selalu komunikasi, jadi tahu kondisi sebenarnya dari anak kita dan teman-temannya," ucapnya.

7. KDEI Taipei Lakukan Penyelidikan

Dilansir dari Tempo.co, Kementerian Luar Negeri RI sedang menyelidiki laporan dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia untuk Taipei (KDEI Taipei) di Taiwan terkait pengaduan kerja paksa berkedok skema kuliah-magang mahasiswa Indonesia.

Menanggapi hal ini, KDEI Taipei telah berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk klarifikasi, sesuai rilis yang diterima Tempo, 2 Januari 2019.

Dari hasil investigasi KDEI Taipei, tercatat situasi yang dialami mahasiswa peserta kuliah-magang di Taiwan berbeda di 8 perguruan tinggi.

Oleh karena itu, KDEI Taipei akan melakukan penyelidikan lebih jauh.

Aduan pertama kali dirilis di portal indonesianlantern.com, sebuah situs yang dikelola oleh diaspora Indonesia di AS, pada 31 Desember 2018.

Dalam artikelnya, sekitar 300 mahasiswa Indonesia di Taiwan diduga dipaksa bekerja di pabrik-pabrik industri.

Mahasiswa yang dipaksa bekerja berasal dari 6 perguruan tinggi Taiwan, diangkut truk ke sejumlah kawasan industri untuk merakit berbagai produk, di antaranya ke pabrik pembuat lensa kontak.

Legislator Partai Nasionalis Kuomintang Ko Chih-en berbicara di Legislatif Yuan di Taipei pada 30 Oktober.

Hal itu terungkap dari penyelidikan Ko Chih-en, anggota parlemen Partai Kuomintang, Taiwan, yang hasilnya diumumkan pekan lalu.

Dalam investigasinya, Ko Chih-en menemukan bukti bahwa 300 mahasiswa Indonesia, salah satunya yang menjalani kuliah di Universitas Hsing Wu, dijadikan pekerja paksa dalam skema kuliah-magang kampus.

Investigasi Ko Chih-en membuat gempar Departemen Pendidikan Taiwan, ungkap laporan Indonesian Lantern. Pasalnya, kementerian telah melarang mahasiswa asing untuk bekerja di tahun pertama studi.

Terkait hal ini, Kemlu RI melalui Kementerian Perdagangan RI meminta KDEI Taipei untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini, memastikan otoritas setempat melindungi mahasiswa Indonesia dan menghentikan sementara perekrutan program mahasiswa skema kuliah-magang.

Menurut laporan Kemenlu RI, saat ini diperkirakan sekitar 6.000 mahasiswa Indonesia di Taiwan, termasuk 1.000 mahasiswa yang mengikuti skema kuliah-magang di 8 universitas yang masuk ke Taiwan pada periode 2017-2018.

8. 300 Mahasiswa Diduga Kerja Paksa

CNN Indonesia memberitakan sekitar 300 mahasiswa asal Indonesia berusia di bawah 20 tahun diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan.

Mereka diduga kuat diperdaya melalui program magang antara kampus yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan.

Berdasarkan hasil investigasi salah satu anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang (KMT), Ko Chih-en, ratusan mahasiswa Indonesia itu terdaftar kuliah di Universitas Hsing Wu di Distrik Linkou, Taipei.

Ratusan pelajar RI itu disebut masuk perguruan tinggi tersebut melalui pihak ketiga atau perantara. Menurut laporan China Times seperti dikutip surat kabar Taiwan News, Rabu (2/1), mereka menempuh kelas internasional khusus di bawah Departemen Manajemen Informasi sejak pertengahan Oktober 2018.

Ko menuturkan dalam sepekan para mahasiswa itu dikabarkan hanya belajar di kelas selama dua hari. Setelah itu mereka bekerja empat hari di pabrik selama 10 jam, dan mendapat jatah satu hari untuk libur.

Ratusan mahasiswa Indonesia itu kabarnya dipekerjakan di sebuah pabrik lensa kontak di Hsinchu. Mereka dikabarkan bekerja dari pukul 07.30 sampai 19.30 waktu setempat.

Mereka harus berdiri selama 10 jam dan membungkus setidaknya 30 ribu bungkus lensa kontak, dengan waktu istirahat hanya dua jam.

Selain itu, Ko menyatakan para pelajar yang rata-rata Muslim diberi makanan yang tidak halal bahkan mengandung daging babi.

Ko menyebut Universitas Hsing Wu merupakan satu dari enam perguruan tinggi di Taiwan yang kedapatan mempekerjakan mahasiswa asing mereka yang berasal dari negara Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik sebagai buruh di sejumlah pabrik industri.

Ko mengatakan pejabat universitas memberi peringatan jika ratusan mahasiswa tersebut menolak untuk bekerja, perusahaan tidak akan mau bekerja sama dan tidak akan membantu studi mereka.

Universitas diduga akan menerima subsidi dari Kementerian Pendidikan Taiwan (MOE) jika berhasil mempekerjakan para mahasiswanya ke pabrik-pabrik.

Uang tersebut kemudian dipakai sekolah untuk membayar para calo sebagai imbalan telah merekrut para pelajar tersebut.

Rata-rata biaya yang dikeluarkan universitas untuk membayar calo adalah sekitar 200 dolar Taiwan atau Rp95 ribu per siswa.

Hingga berita ini ditulis, Kementerian Luar Negeri RI belum menjawab konfirmasi yang diajukan CNNIndonesia.com terkait kebenaran laporan tersebut.

Menurut media lokal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah membenarkan kabar tersebut. Mereka menyebut informasi itu didapat langsung dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Taiwan. (Berbagai sumber/Edy Yusmanto/Zulkodri)

Yuk subscribe canel video Youtube Bangka Pos!

Penulis: ediyusmanto
Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved