Bicara Tanggungjawab, Penanganan Banjir di Babel Tanggungjawab Bersama

Kalau bicara tanggung jawab, harusnya tanggung semua. Pemprov dan Pemkot, harus bersama penanganannya

Bicara Tanggungjawab, Penanganan Banjir di Babel Tanggungjawab Bersama
Bangka Pos / Krisyanidayati
Kepala Dinas PUPR, Noviar Ishak 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noviar Ishak mengatakan pengentasan masalah banjir yang terjadi di Babel merupakan tanggungjawab bersama.

Hal ini menyusul terjadinya Banjir di Kampung Airasin, Kelurahan Pasirputih, Pangkalpinang yang menjadi kawasan langganan banjir.

Noviar menyebutkan, pada tahun 2018 Pemprov Babel telah memberikan bantuan dana sebesar Rp 25 miliar untuk penanangan banjir di Ibukota Provinsi itu.

"Kalau bicara tanggung jawab, harusnya tanggung semua. Pemprov dan Pemkot, harus bersama penanganannya. Tahun 2018 Pemprov ada bantu dana pengerukan via DABA sebesar Rp 30 miliar, realisasi sekitar 25 M. Ini dikerjakan oleh Pemkot, itu bentuk perhatian Gubernur," kata Noviar, Senin (7/1/2019).

Ia mengatakan, untuk 2019 ini hanya ada pemeliharaan rutin untuk penanganan banjir.

"Dari kami hanya ada pemeliharaan rutin saja. Kalau banjir saat ini, ada kemungkinan pengaruh dari pasang surut air laut. Kalau laut pasang tinggi, di daratan hujan, biasanya air agak tertahan," jelasnya.

Untuk mengatasi luapan air karena pasang surut air laut, ia menyebutkan idealnya
ada pintu air di bagian hilir dan ada pompa yang membuang kelebihan air di darat saat hujan. Ini resiko karena daerah Pangkalpinang yang topografinya, beberapa lokasi ada yg dibawah muka air laut.

"Sudah ada beberapa kajian tentang hal ini, tetapi belum bisa direalisasikan, karena beberapa faktor, salah satunya adalah ketersediaan anggaran," jelas Noviar.

Ia menilai, upaya yang dilakukan Pemkot dan Pemprov untuk menangani banjir sudah mulai menunjukan beberapa kemajuan.

"Paling tidak mengurangi durasi lamanya air yang tergenang dan cepatnya terjadi banjir. Air lebih cepat surut, dan agak lama baru terjadi banjir, tetapi kalau pengaruh pasang, susah juga," katanya.

Noviar mengatakan, tak kalah pentingnya ialahh menjaga lingkungan dengan baik.

"Banyak daerah resapan (kolong) yang sudah berkurang luasnya karena banyak ditimbun utk perumahan atau kawasan komersil. Kembalikan fungsi lahan sesuai fungsinya," tutupnya. (BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

Penulis: krisyanidayati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved