Ada 20 Desa di Babar dan Bangka yang Ditetapkan Sebagai Desa Stunting

Ada 10 desa di Bangka Barat dan 10 desa di Bangka yang harus diintervensi berdasarkan pendataan pusat

Ada 20 Desa di Babar dan Bangka yang Ditetapkan Sebagai Desa Stunting
Bangka Pos/Krisyanidayati
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah (Bapppeda) Babel, Ferry Insani. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ada 20 desa yang yang tersebar di Kabupaten Bangka dan Bangka Barat yang ditetapkan menjadi desa Stunting dan masuk dalam 160 kabupaten/kota di Indonesia yang harus diintervensi untuk penanganan stunting berdasarkan hasil riskesdas 2013.

Kepala Badan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah (Bapppeda) Babel, Ferry Insani mengatakan untuk menyelesaikan persoalan stunting harus dikeroyok secara bersama-sama.

Pasalnya, stunting tidak hanya berkaitan dengan gizi saja. 

"Ada 10 desa di Bangka Barat dan 10 desa di Bangka yang harus diintervensi berdasarkan pendataan pusat.

Tapi bukan berarti tidak ada di kabupaten lain. Saat ini dinas kesehatan sedang melakukan pendataan per individu sehingga bisa mudah intervensinya," jelas Ferry, Rabu (9/1/2019). 

Ia menjelaskan, tingginya angka stunting di Babel dipengaruhi oleh tingginya angka pernikahan dini di Babel, pemahaman masyarakat yang masih kurang tentang pola asuh mulai dari hamil hingga balita. 

Ferry mencontohkan dari sisi kesehatan harus memastikan asupan gizi spesifik ibu hamil dan balita harus terpenuhi.

Dari sisi pendidikan juga harus dilibatkan untuk mengurangi angka pernikahan dini. Dinas Pemberdayaan masyarakat Desa, juga harus melakukan pembinaan kepada masyarakat.

Bahkan ini juga melibatkan instansi vertikal seperti kementerian agama. 

"Ini harus diselesaikan secara holistik, Program khusus ada tapi ini holistik tidak hanya kesehatan, tapi pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kemenag, PUPR untuk sanitasinya, pangan, dan lainnya," kata Ferry. 

Ferry menyebutkan, pendekatan gizi spesifik sangat perlu pasalnya ini 70 persen mempengaruhi stunting. 

"Dari Dinkes gizi spesifik harus diperhatikan betul untuk bayi 0-24 bulan dan ibu hamil harus dikasih gizi yang baik.

Kita masih melakukan pemetaan intervensi dari masing-masing OPD untuk menangani stunting," katanya.

Sayangnya, Ferry belum melakukan pendataan akurat terkait jumlah masyarakat yang mengalami stunting di 20 desa tersebut.

"Kita melakukan pendataan melalui dinas kesehatan. Sekarang masih dalam proses pendataan mulai dari ibu hamil dan balita. Setelah ada data, nanti kita akan intervensi by name by addres," katanya. (BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

Penulis: krisyanidayati
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved