Cegah DBD Ada Program Satu Rumah Satu Jumantik, Begini Penjelasannya

Fogging kita lakukan apabila dalam satu daerah ada ditemukan DBD dan tidak hanya satu orang, kemudian

Cegah DBD Ada Program Satu Rumah Satu Jumantik, Begini Penjelasannya
Bangka Pos/Krisyanidayati
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Hendri. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  Muhammad Hendri mengatakan, untuk mengantisipasi terserang Demam Berdarah Dengue (DBD), pihaknya menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Hendri menjelaskan PSN dapat dilakukan dengan cara menguras bak atau tempat penampungan air minimal tiga kali sehari.

"Ada juga program satu rumah satu Jumantik (Juru Pemantau Jentik) untuk menggalakkan program PSN. Kita utamakan PSN daripada fogging.

Fogging kita lakukan apabila dalam satu daerah ada ditemukan DBD dan tidak hanya satu orang, kemudian ditemukan  jentik. Kita tetap utamakan PSN," katanya, Selasa (29/1/2019).

Satu rumah satu Jumatik, dimana Jumantik ini merupakan pemilik rumah, yang nantinya akan dipantau oleh kader, saat ini untuk kader Jumatik yang memantau itu dikerjasamakan melalui dana desa.

"Kalau dulu Jumantik dibayar kabupaten, sekarang kita kerjasama masukan dalam kegiatan desa. Tahun 2018 percontohan 1 kabupaten/ 1 desa format dengan honor kader provinsi, setelah itu tahun ini pakai dana desa untuk bayar kader untuk mantau," katanya.

Pihaknya, juga turut mengkhawatirkan penyebaran DBD di tempat umum, seperti sekolah, pesantren, masjid dan beberapa tempatnya.

"Tempat umum juga kita sarankan untuk menguras bak penampungan air melalui PSN, atau dikasih Abate. Kita khawatir di sekolah, masjid dan lainnya," sebutnya.

Menurutnya, pihaknya juga telah membuat edaran gubernur yang disebarkan ke bupati/Wali Kota tentang kewaspadaan pengandaliaan DBD.

Pihaknya telah melakukan pengawasan, pembinaan dan pengendalian untuk mengantisipasi merebaknya DBD ini.

"Yang kita khawatirkan 2019 itu siklus 5 tahunan, karena faktor dari siklus cuaca dan perubahan iklim, perubahan pola vektor 5, yang  perilaku penyemprotan racun periode dak boleh sama," jelasnya.

Hendri menjelaskan, penanganan yang dilakukan terkait DBD yakni penyelidikan epimidologi mencari kasus lain, demam, jentik, tata laksana kasus, pengendalian vektor abatesasi, fogging, dan PSN.

"Kalau masyarakat betul-betul melaksanakan PSN, ini insya Allah aman, utamakan juga menjaga kebersihan lingkungan. Kita tidak serta merta melakukan fogging, ada ketentuannya juga untuk fogging," sebutnya. (BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)


Penulis: krisyanidayati
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved