Breaking News:

Merebut Kembali Kepercayaan Publik, Sebuah Catatan untuk Hari Pers Nasional 2019

Dimana posisi pers saat ini? Pertanyaan ini harus segera dijawab oleh insan pers sebelum pertanyaan tersebut berubah jadi gugatan publik terhadap pers

TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
SIDANG KASUS WARTAWAN UDIN - Pemain teater dari Komunitas Tebu berakting dalam pentas teater bahasa jawa dengan judul "Mati Marga Warta" di Kampung Mataraman, Pangggungharjo, Sewon, Bantul, DI yogyakarta, Kamis (9/11/2017) malam. Pentas yang juga melibatkan sejumlah jurnalis tersebut mengangkat kisah Fuad Muhammad Safrudin alias Udin, wartawan Bernas yang meninggal pada 16 Agustus 1996 karena dianiaya sejumlah orang terkait produk jurnalistiknya. Hingga saat ini, Polisi gagal mengungkap kasus tersebut. 

Dimana posisi pers saat ini? Pertanyaan ini patut dijawab oleh insan pers sebelum pertanyaan tersebut berubah jadi gugatan publik terhadap integritas pers Indonesia.

Oleh: Ibnu Taufik Jr
Pemimpin Redaksi Bangka Pos Group

SEBAGAI seorang jurnalis, tidaklah berlebihan jika perayaan Hari Pers Nasional (HPN) yang akan dihelat di Surabaya, 9 Februari 2019 mendatang adalah momentum yang sangat ditunggu. Apalagi HPN kali ini terasa lebih "seksi" lantaran bertepatan dengan riuhnya tahun politik.

Pers nasional telah melewati masa-masa sulit di era orde baru, di mana ruang geraknya terjepit ketiak penguasa. Selama 32 tahun, rezim orde baru seakan membungkam pers kita.

Suara lantang surat kabar, radio atau televisi yang seharusnya menjadi kontrol pemerintah melalui fakta-fakta yang seharusnya disampaikan berubah menjadi nyanyian tidur bagi anak- anak. Pers terkesan tak lebih dari sekadar kepanjangan tangan penguasa kala itu.

Bersikap "jinak" terhadap penguasa adalah satu-satunya pilihan bagi lembaga penerbitan kala itu. Sebab penguasa memiliki tangan besi yang dengan mudah membredel media yang mengambil sikap berseberangan.

Apakah selama 32 tahun dikangkangi orde baru ini idealisme pers mati? Tidak, idealisme pers ini tetap hidup dan menyala bak api di dalam sekam. Semangat menegakkan kemerdekaan pers ini tetap membara di balik sikap kompromi terhadap pemerintah kala itu.

Sesekali, Muchtar Lubis, Rosihan Anwar, atau Jacob Oetama sebagai jurnalis yang merasakan masa-masa ini tetap berani "menyalak" dan mengritik penguasa. Kebenaran dan fakta menjadi alasan mereka untuk mengambil risiko terbesar di dalam kariernya bahkan hidupnya.

Sikap mereka yang berani kritis inilah yang senantiasa memelihara api perjuangan pers indonesia menuju pers yang independen. Dari sikap kritis ini pula, pers langsung atau tidak langsung ikut mengawal "revolusi sosial politik" yang mampu menumbangkan kedigdayaan orde baru pada 1998.

Momentum gerakan massa pada reformasi 1998 juga menjadi pelecut kebangkitan pers indonesia. Ibarat 32 tahun dibungkam, Pers Indonesia bangkit dan kembali menemukan jati dirinya.

Ujian

Dua dekade berjalan pascareformasi seperti terasa telah dilalui pers indonesia. Kini, pers begitu bebas dan menikmati kemerdekaannya. Namun rupanya, justru kebebasan dan kemerdekaan itulah yang "membelenggu" pers itu sendiri.

Halaman
1234
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: Teddy Malaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved