Ayahnya Meninggal Ibunya di Luar Bangka, Rahmat yang Masih Bocah Jadi Pemulung untuk Bayar Kontrakan

Ayahnya Meninggal Ibunya di Luar Bangka, Rahmat yang Masih Bocah Jadi Pemulung untuk BAyar Kontrakan

Ayahnya Meninggal Ibunya di Luar Bangka, Rahmat yang Masih Bocah Jadi Pemulung untuk Bayar Kontrakan
Bangka Pos/ Dwi Ayu Mauleti
Rahmat Bocang Pemulung 

"Rahmat orang yang peduli dengan keluarga," kata Ita.

"Kadang menangis melihat Rahmat yang harus menjadi pemulung di malam hari, rasanya tak tega. tetapi karena keadaan. Jadi mau tidak mau," sambung Ita, tante Rahmat.

Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rahmat juga harus membayar sewa kontrakan Rp 350.000/bulan yang dibantu juga oleh tantenya.

Selain memulung pada malam hari, setiap pagi nya Rahmat mengerjakan  pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring. Tak lupa Rahmat merawat kakeknya.

Saat di tanyai mengenai pendidikan Rahmat sempat sekolah, tapi putus di tengah perjalanan akibat bullying temannya.

"Kemarin sekolah sampai kelas satu, habis itu tidak mau lagi karena dibully teman tidak bisa baca," kata Rahmat.

Sekarang ia pun berkeinginan untuk melanjutkan sekolah lagi. Namun tidak ada biaya untuk keperluan sekolah.

Di tanya soal kepedulian dari pemerintah, atau yang lainnya, kakek Rahmat mengatakan ia mendapatkan kursi roda dari Dinas Sosial Pangkalpinang

"Kalau dari pemerintah, lurah, kecamatan pernah ke rumah,"kata kakek Rahmat. (BANGKAPOS/Dwi Ayu Mauleti)

Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved