Nelayan Bagan di Koba Mengeluh, Sulit Cari BBM Karena Tak Ada SPBN

Selama ini mereka menggunakan BBM non subsidi beli di pinggiran jalan dan SPBU pertamina, jadi mereka

Nelayan Bagan di Koba Mengeluh, Sulit Cari BBM Karena Tak Ada SPBN
bangkapos/riki
Wakil Ketua DPRD Bangka Tengah Apri Panzupi 

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Wakil Ketua DPRD Bangka Tengah, Apri Panzupi mengungkapkan, dirinya banyak mendapatkan keluhan dari para nelayan bagan di wilayah Tanjung Langka, Kecamatan Koba.

Para nelayan mengeluhkan susahnya mendapatkan BBM bersubsidi karena tidak adanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di wilayah Terentang hingga Kulur.

"Selama ini mereka menggunakan BBM non subsidi beli di pinggiran jalan dan SPBU pertamina, jadi mereka terpaksa menggunakan non subsidi dan karena  yang subsidi sulit di dapatkan, oleh karena itu,

kita mengharapkan pertamina membantu menbangun SPBN untuk nelayan di seputaran Desa Terentang dan Kulul karena wilayah itu daerah pesisir,"jelas Apri kepada wartawan, Rabu (20/2/2019).

Ia menambahkan, bahwa pihak DPRD melalui komisi satu, juga berencana mendatangi Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk meminta adanya pembangunan SPBN diwilyah yang dibutuhkan saat ini.

"Tujuanya untuk memudahkan nelayan  mendapatkan BBM dengan subsidi, otomatis bila ada nanti mereka lebih mudah dan bisa menikmati hasil tangkapanya, karena tanggapan lumayan bagus,"lanjutnya

Apri, menambahkan selama mereka masih menggunakan non subsidi pemerintah daerah harus hadir membantu mensubsidi itu, termasuk membantu alat tangkap mereka, seperti tali,wareng dan alat tangkap lainya.

"Melakukan upaya melakukan konversi dari BBM ke Gas agar lebih ekonomis. Karena terdapat kurang lebih, 250 nelayan dari Terentang hingga kulur
, minta dinas juga memfasilitasi termasuk melakukan kajian alih teknologi BBM ke gas,"lanjutnya

Ia menambahkan, bahwa hasil dari ikan nelayan bagan saat ini sudah banyak menghasilkan kurang lebih 161 ton dari hasil tangkap ikan dan cumi.

"Dengan hasil tangkapan yang begitu melimpah, tentunya peran di dinas penyuluh hasil tangkapan nelayan sudah cukup berhasil ada satu sisi lagi menjadi kendali mereka, secara ekonomis belum begitu menikmati, setelah diskusi dengan nelayan tingginya biaya operasi, salah satunya di BBM jenis solar dan bensin," tukasnya.(*)

Penulis: Riki Pratama
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved