BangkaPosiana

Cerita Juniarti Gantikan Suami yang Sakit, Jadi Single Fighter untuk Hidupi Tiga Anaknya

Sudah empat tahun ini, Juniarti (40), harus banting tulang menjadi single fighter untuk menghidupi tiga dari empat anaknya

Cerita Juniarti Gantikan Suami yang Sakit, Jadi Single Fighter untuk Hidupi Tiga Anaknya
(BANGKA POS / DEDY Q)
Juniarti (40), warga Kacang Pedang yang menjadi single fighter untuk menghidupi keluarganya setelah mendapatkan kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, di ruang OR, Kantor Wali Kota, Senin (4/3/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sudah empat tahun ini, Juniarti (40), harus banting tulang menjadi single fighter untuk menghidupi tiga dari empat anaknya yang masih menjadi tanggungannya.

Setiap hari ia bekerja sebagai tukang sapu di rumah seorang pejabat dan mengambil upah menjadi tukang setrika.

Dari dua pekerjaan itu ia memperoleh pendapatan Rp850 ribu per bulan. Uang itulah yang harus ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari.

"Dicukup-cukupin lah. Saya tidak tahu ngomong lagi lah, kadang-kadang rasanya mau nangis saja. Tidak tahu lagi saya, sabar saja sudah empat tahun," kata Juniarti saat berbincang kepada Bangka Pos.

Dia berharap "hartanya" yang lain yakni anak-anaknya bisa bernasib lebih baik. Satu anak Juniarti telah menikah dan satu sedang mengenyam pendidikan menengah atas dan sekolah dasar, lalu satu anaknya lagi belum bersekolah.

"Siapa tahu anak-anak bisa sukses nantinya...InsyaAllah yang satu itu tahun ini bisa tamat," kata Juniarti.

Warga Kacangpedang itu harus melakoni dua pekerjaan itu karena suaminya mengalami kebutaan akibat penyakit glukoma.

Sambil bekerja, Juniarti juga membagi waktu untuk mengurus suaminya. Dia pun sadar bahwa ini adalah tanggung jawabnya menggantikan peran suaminya sebagai pejuang tunggal dalam keluarga mereka.

Juniarti adalah satu dari 300 ibu-ibu pencari nafkah utama dalam keluarga (single fighter) yang mendapatkan pembagian kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, di ruang OR, Kantor Wali Kota, Senin (4/3/2019).

Dari program kerja sama antara Pemkot Pangkalpinang dengan BPJS Ketenagakerjaan ini, ia mendapatkan jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JK).

"Ini penting bagi saya, untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa. Alhamdulillah juga saya dapat dari PKH (Program Keluarga Harapan), saya kadang dapat bantuan dari pengujian, dari Baznas, itu rutin, alhamdulillah. Bapak sekarang jadi tukang pijit," tuturnya.

Saat ditemui, Juniarti tampak tegar memegang stryofoam bertuliskan penerima jaminan BPJS Ketenagakerjaan.

Wajahnya tampak serius. Saat berbincang, dia tiba-tiba saja bilang bahwa dirinya harus semangat menjadi pencari nafkah utama untuk menghidupi keluarganya.

"Saya harus semangat," katanya kepada Bangka Pos.

(BANGKAPOS.COM / dedyqurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved