Berita Pangkalpinang

Korupsi Proyek Pipa PDAM, Kasatker Ngaku Ada 10 Titik Kebocoran

Lalu Roni pun menjawab jika kegiatan pekerjaan rehabilitasi pipa transmisi PDAM Merawang, Bangka tahun

Korupsi Proyek Pipa PDAM, Kasatker Ngaku Ada 10 Titik Kebocoran
Bangkapos/Ryan Agusta
Kepala intansi Satker SNVT Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA), Sumatera VII Provinsi Bangka Belitung, Abdul Roni saat hadir dalam persidangan. 

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Kepala Satker (Kasatker) SNVT Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA), Sumatera VII Provinsi Bangka Belitung, Abdul Roni, Senin (4/3/2019) kembali duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (Tipikor) Pangkalpinang Kelas IB.

Kehadiran terdakwa (Abdul Roni) seperti sebelumnya terlihat menggunakan kemeja putih dan kali ini ia dimintai keterangan dalam persidangan di hadapan majelis hakim yang menyidangnya saat itu.

"Ada berapa titik pipa yang bocor saat pekerjaan rehab itu?," tanya seorang jaksa penuntut umum (JPU), Aditya kepada Roni saat sidang berlangsung.

Lalu Roni pun menjawab jika kegiatan pekerjaan rehabilitasi pipa transmisi PDAM Merawang, Bangka tahun anggaran 2016 lalu senilai Rp 4,7 M itu sepengetahuannya terdapat 10 titik kebocoran.

Dalam persidangan kali ini pun hadir pula tiga orang terdakwa lainnya, Mulyanto, M Rifani alias Pepen dan Judas Swara alias Aloi (direktur PT Rian Jaya Makmur).

Pelaksanaan sidang yang dipimpin oleh Sri Endang Amperawati Ningsih SH MH beserta dua anggota majelis hakim lainnya, Corry Oktarina SH MH & Erizal SH MH pun sempat dilakukan skorsing dua kali, hingga sidang pun dilanjutkan pukul 18.30 WIB hingga berakhir malam hari.

Sebagaimana dalam berita sebelumnya yang sempat dirilis bangkapos.com disebutkan jika perkara tipikor ini berawal diungkap oleh tim Pidsus Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel).

Dalam proyek ini pekerjaan proyek dinamakan rehabilitasi pipa transmisi pipa PDAM Merawang, Kabupaten Bangka tahun anggaran 2016 dengan pagu dana mencapai angka senilai Rp 4,7 M.

Namun dalam pelaksanaanya pihak penyidik Kejati Babel menduga jika pekerjaan proyek tersebut telah terjadi penyimpangan sehingga diperkirakan kerugian keuangan negara mencapai angka Rp 1,9 M. 

Namun setelah dilakukan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebaliknya kerugian keuangan negara hingga mencapai angka senilai Rp 2,9 M. 

Meski begitu para terdakwa pun sebelumnya sempat mengembalikan dugaan kerugian keuangan negara senilai Rp 1,9 M dan dititipkan ke pihak Kejati Babel.
(BANGKA POS/Ryan A Prakasa)

Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved