Travelling

Jalan-jalan ke Pasar di Atas Awan Magelang, Pasar Tradisi Lembah Merapi Gunung Gono

Berkunjung ke Pasar di Atas Awan Magelang, Pasar Tradisi Lembah Merapi Gunung Gono

Jalan-jalan ke Pasar di Atas Awan Magelang, Pasar Tradisi Lembah Merapi Gunung Gono
Tribun Jogja/ Rendika Ferri Kurniawan
Para pedagang melayani para pembeli di Pasar Tradisi Lembah Merapi 

BANGKAPOS.COM - Jika anda sedang berjalan-jalan di Kabupaten Magelang, tidak ada salahnya untuk dapat berkunjung ke Pasar Tradisi Lembah Merapi di Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Pasar yang berada di puncak bukit Gunung Gono ini menawarkan nuansa wisata yang berbeda dengan memadukan wisata kuliner dan wisata alam.
Sesaat memasuki Pasar Tradisi Lembah Merapi, pengunjung disambut hawa sejuk pegunungan.

Lokasi pasar berada di atas bukit Gunung Gono dengan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu di hadapannya.

Kuliner Jogja - 7 Warung Makan Enak, Sego Empal Bu Warno hingga Mangut Iwak Kali

Suasana di sana begitu asri, rumpun bambu dan rimbun pepohonan merindangi segenap penjuru pasar yang terletak di jantung desa yang terhimpit di lahan persawahan yang hijau membentang.

Seperti kembali kepada masa lalu saat masuk ke dalam pasar ini. Para pedagang menyambut para pengunjung dengan sapa ramah dan selamat datang dengan berbahasa jawa.

Di pasar ini, mata uang rupiah terkesan tak laku. Mereka menggunakan mata uang khusus yang dinamakan 'Dhono. Dhono ini setara dengan Rp 2ribu yang dapat dibelanjakan makanan yang ditawarkan di sini.

Beragam kuliner jadul dijual di pasar ini, mulai dari makanan tradisional seperti Clorot, Sengkulun, Kluban, Buntil, Sego Jagung, sampai berbagai macam olahan ketela Gethuk dan kawan-kawannya.

7 Hotel Murah di Solo, Tarifnya Mulai Rp 90 Ribuan Per Malam

Minuman tradisional juga ada di sini. Ada wedang uwuh, wedang jahe, dawet ayu dan penganan jadul.

Dekorasi pasar pun kental nuansa tradisional. Lapak pedagang menggunakan 'amben', sejenis meja berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bilahan bambu yang ditatah dan direntangkan.

Piringnya menggunakan anyaman bambu dengan alas daun pisang, batok kelapa yang sudah dibelah. Wadah minumnya menggunakan kendi, dan cangkir dari gerabah.

Halaman
12
Editor: tidakada016
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved