Breaking News:

Berita Bangka Barat

Warga Mengeluh Suara Tembakan Dianggap Mengganggu, Begini Kata Kabid Keamanan Unmet PT Timah

Salah seorang warga desa Belo Laut, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat atau tepatnya Dusun Pait Jaya mengeluh bunyi tembakan di sekitar rumahnya

Bangkapos/Nordin
Sejumlah warga mendatangi Unit Metalurgi PT Timah Tbk Muntok, Kabupaten Bangka Barat 

BANGKAPOS.COM -- Kabid keamanan Unit Metalurgi (Unmet), PT. Timah Tbk, Ibnu Harun menerangkan, pihaknya telah melakukan pengamanan yang sesuai standar operasional (SOP) di wilayah kerjanya.

Menurutnya tembakan yang dikeluarkan saat warga di sekitar perusahaan mengambil pasir limbah timah merupakan peringatan, itu pun diarahkan ke atas dan menggunakan peluru hampa.

"Ditembak itu karena sudah diperingatkan, tidak mempan setelah dilarang. Disitu nggak boleh ngambil pasir, walaupun limbah tetapi masih dalam komplek perusahaan (PT.Timah), tetap nggak boleh, itu sudah aturannya," terang Ibnu, Selasa (5/3/2019)

Sebetulnya kata Ibnu, di area tempat pembuangan limbah tersebut sudah ada pengamanan, seperti pos jaga namun masih juga warga mengambilnya secara ilegal.

Suara Tembakan Mengganggu dan Mengintimidasi

Terpisah salah seorang warga desa Belo Laut, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat atau tepatnya Dusun Pait Jaya, Tahmrin mengeluh bunyi tembakan di sekitar rumahnya.

Hal tersebut menurutnya mengganggu keluarganya yang sedang sakit dan juga anaknya melahirkan.

"Seandainya terjadi apa-apa sama keluarga saya siapa yang bertanggungjawab dari bunyi tembakan tersebut, saya bingung, kok sampai ke pemukiman warga bunyi tembakan, kalau di tempat lain silahkan," ungkapnya.

Koordinator unjuk rasa di Unit Metalurgi PT. Timah Tbk atau tepatnya di pusat pengolahan biji timah di Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Iskanto mengatakan selama pengambilan pasir limbah tersebut masyarakat terintimidasi, kendaraan mereka ada yang di rusak hingga adanya beberapa kali bunyi tembakan.

"Sebetulnya kami sudah mengajukan untuk pengambilan pasir limbah tersebut ke perusahaan, tapi belum ada tanggapan, intinya warga minta dilegalkan dalam pengambilan pasir tersebut," sebut Iskanto, Selasa (5/2/2019)

Diapun berharap surat atau MoU yang pernah diajukan pihaknya segera ditindaklanjuti, agar masyarakat sekitar menjadi tenang.

"Kami mengakui ini salah, karena pengambilan pasir ini secara ilegal tanpa izin perusahaan, tuntutan kami supaya warga di sekitar perusahaan diperbolehkan mengambil pasir tersebut, suratnya sudah kami ajukan," jelasnya.

Penulis: Muhammad Noordin
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved