Inilah Hari Suci Nyepi di Bali, Ketika Semuanya Hening dan Tanpa Gerak

Mengawasi dan “menghalau masuk” warga atau orang asing yang kedapatan melanggar ketentuan adat, tidak boleh keluar dari tempat tinggal.

Dokumen Pos Belitung
Proses pembakaran ogoh-ogoh sebelum menyambut Nyepi yang dilakukan di lapangan depan Pura Pureh Desa Giri Jati Dusun Balitung, Sijuk pada Jumat (16/3/2018). 

BANGKAPOS.COM – Pada Hari Raya Nyepi 7 Maret 2019, selama 24 jam penuh, umat Hindu akan hidup dalam diam, hening, dan gelap.

Ada kegiatan apa di balik itu?

Kalau sempat berkunjung ke salah satu kota di Bali pada hari Raya Nyepi itu, Anda akan merasakan suasana yang lain dari biasa.

Jalanan kosong dan sepi. Gonggong anjing menjadi nyaring meski di siang bolong.

Udara segar nyaris tanpa asap yang biasa menyembur dari knalpot kendaraan bermotor.

Warung-warung, kedai-kedai, toko-toko, pasar swalayan, menutup pintunya rapat-rapat.

Bila malam tiba, Bali menjadi hitam.

Gelap gulita. Nyaris tidak ada sinar lampu setitik pun.

Seluruh pintu gerbang masuk ke pulau ditutup sejak tengah malam sebelumnya.

Pulau yang biasa dipadati manusia dari berbagai bangsa itu seperti pulau mati tak berpenghuni. Suasana magis terasa semakin pekat.

Halaman
1234
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved